Satu Plot

Aku lupa, mungkin sengaja untuk lupa. Ketika kepalaku lemas tergeletak disebuah meja dengan tubuh tak berkutik, ketika itu entah datang dari mana sosok yang sekarang menatapku aneh. Aku tak bisa membaca matanya, dia masih berdiri di sampingku sambil menunggu jawabanku. Beberapa menit yang lalu dia datang mengagetkan kebisuanku pada waktu.
“Apa yang kamu lakukan?” Katanya sedikit keras membuatku kaget dan mengangkat kepalaku sedikit terburu-buru. Dan aku belum bisa menjawab pertanyaannya. Aku masih mengamatinya, ia tegap dengan rambut hitam sedikit berantakan. Kulitnya sedikit coklat dengan mata hitam bulat. Ia menunggu dengan sabar, aku gelagapan.
“Kamu siapa?” Tanyaku pelan, aku merasa pernah melihatnya tapi entah di mana.
“Kamu lupa padaku? Astaga.” Dia mengambil tempat duduk di sampingku dan mulai duduk. Tangannya merogoh bungkus rokok disaku celananya dan menghidupkan sebatang. Aku merasa mengenali cara merokoknya, aku mencoba mengingat-ingat lelaki jangkung di depanku tapi gagal.
“Apa kita pernah bertemu?” Aku belum bisa mengenalinya. Ia menoleh dan tersenyum sedikit sinis.
“Pernah bertemu? Bahkan dulu setiap malam kamu menjamahku, menjajahku, atau pagi-pagi buta kamu merusuhiku.” Katanya sambil terus menyungging senyum sinis.
“Hah??”
Dia tidak menjawab, mengambil buku di pangkuanku yang sampulnya bertulis “Blues Untuk Bonnie”.
“Tidak usah berpura-pura membaca,” Katanya sambil meringis, gigi putihnya berjajar rapi kemudian kembali meletakkan buku itu kepangkuanku dengan sedikit kasar.
“Sebenarnya maumu apa?” Aku mulai kesal.
“Namaku Ario, aku menunggumu lama sekali. Tapi kamu masih saja ribut dengan hal-hal tidak mutu. Masalah kecil dibesar-besarkan, berkutat dengan yang begitu-gitu terus..”
“Kamu ?? ” Aku mulai mengenalinya.
“Dengar dulu, rasanya aku terlalu lama menunggu sampai muak. Aku pikir, kamu mau belajar ternyata sama saja dengan yang lain. Kamu terlalu banyak bicara!”
“Bagaimana kamu bisa sampai ke sini?” Aku semakin bingung.
“Kan sudah ku bilang aku muak menunggu, setiap malam berharap kamu membuka-buka diriku atau memberikan penyelesaian tentang bagaimana seharusnya aku. Malah kamu sibuk dengan ketidakmutuanmu.”
“Jadi kamu menunggu?”
“Tentu saja.”
Ario terlihat larut dalam rokoknya. Ario, salah satu tokoh ceritaku yang belum bisa aku selesaikan. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa berada di sini. Aku disergap ketidakmengertian.
“Jangan melamun! Kamu berhenti menulis?” Bentaknya. Satu batang rokok sukses ia habiskan dalam hitungan menit.
“Tidak!! Sama sekali tidak!!” Aku menyangkal keras tuduhannya.
“Cih, sudahlah akui saja kalau kamu berhenti menulis,” Mataku hampir keluar tak terima dengan hinaannya.
“Atau kepalamu itu sekarang buntu?” Kepala Ario mendekati kupngku sambil berkata begitu. Aku menoleh cepat, mataku rasanya memanas. Marah.
“Tidak perlu menjawab! Aku ke sini bukan untuk mendapat penjelasan, lagipula aku sudah muak juga menunggu. Sekarang, jawablah pertanyaanku pada dirimu sendiri. Aku pergi dulu.”
Ario meninggalkanku dengan langkah cepat. Ia sempat menoleh lagi sekali sambil berkata, “Aku muak, tapi masih akan menunggu. Selesaikan satu dulu, lalu mulai yang lain!” Dia melambaikan tangannya dan tak menoleh lagi. Dan aku sedang mencari jawaban. Untuk diriku sendiri.

Iklan

Menyapa November

-Selamat datang November, selamat membaui hujan –

——-
November, terlalu terburu-buru kah kau datang? Aku masih larut pada yang terlewat. Ah, pagi hari pertamamu aku sapa dengan sempurna … Selamat datang, , ,
——-
Beberapa kertas sangat berserakan, tercecer tak karuan, beberapa catatan terlihat tak beraturan .. November, mungkin kau datang untuk merapikannya ..
——-
Ada yang harus diselesaikan, ada yang harus ditunda… menyelesaikan atau menundakan kah kau sengaja hadir?
——-
November, aku tahu, beberapa doa penting pasti dikabulkan ..
——-
I can see you if you were not with me, I can say to my self if you were okay ..
——-
Kepada yang selalu baik-baik saja, semoga November semakin bahagia ..
——-
Kepada cerita-cerita lalu, semoga menjadi apapun kalian ingin menjadi ..
——-
Kepada hati, yang padanya beberapa waktu berlalu, berlarilah sejauh kakimu ingin ..
——-
Kepada mata, yang beberapa pelangi pernah datang, mengertilah seberapa besar kamu harus mengerti ..
——-
Kepada tinta, yang goretannya menyisakan getir, tidak ada yang perlu dikhawatirkan .. tetaplah seperti itu ..
——-
Kepada tawa, yang mendamaikan suasana, terimakasih telah hadir dan menawarkan banyak kepahitan …
——-
Kepada yang berubah, tidak perlu menjelaskan, pemahaman tidak selalu dibarengi pengertian ..
——-
Kepada malam, yang kadang menusuk kenangan, bersahabatlah sayang …
——-
Kepada pagi, yang terbata-bata aku eja, hemmmm .. semoga kamu membuai apa yang bisa terbuai …
——-
Kepada siang, yang sering datang dan pergi tanpa rasa, jangan memburu, aku tak ingin terburu-buru …
——-
Kepada senja, yang tak pernah bisa kuikat, bisakah beberapa kisah diulang???
——-
Kepada yang terlupa, tidak ada yang sengaja dengan lupa, semua terjadi dengan tiba-tiba …
——-
Kepada luka, yang entahlah, mari kita menjadi akrab ..
——-
Kepada hatiku, yang di sana bertumpuk berjuta kisah, jadilah kotak yang menyimpan apa pun yang harus disimpan ..
——-
Kepada, ah, kepada semuanya … berbahagialah, menjadilah kalian apapun, menjadilah kamu bagaimana pun, menjadilah dia siapapun, menjadilah tanpa harus menengok kemana pun …
——-
-November, peluklah aku-

Satu Alasan

                 -Aku ingin menangis, sangat ingin ,,, itulah doaku pagi ini-
Aku lupa sejak kapan aku kehilangan persediaan air mata. Kantung air mataku sama sekali tak ketemui disaat-saat aku membutuhkannya. Lalu aku mulai menyadari, aku lupa cara menangisi ….
Hatiku mulai sering mengeluh pada kepalaku, ia ingin menangis, tidak sekedar merasakan tapi kepalaku samasekali tak mau mendengar kata tangis. Aku tak mengerti. Menangis jadi hal yang menakutkan untuk sebagian dariku dan menjadi sangat dibutuhkan untuk bagian yang lain. Setiapkali air mata telah menggenang disudut mataku, akan ada, entah, kekuatan yang datang dari mana menarik kembali calon air mata itu. Dan aku selalu gagal menangis.
Pagi ini aku masih ingin menangis, begitu kata hatiku. Sementara kepalaku masih kukuh tak mau menerima kosakata tangis. Kesadaran akan kenyataan menarik-narikku tentang pemaknaan terhadap tangis. Aku mengerti, tidak ada alasan untukku menangis. Lalu hatiku mulai berkata, bukankah kita tak perlu alasan untuk sekedar menangis????

                  Kepalaku mulai berpikir. Merangkai kejadian demi kejadian sementara hatiku mulai merasa lelah karena terlalu ingin menangis. Keras sekali kepalaku mencoba untuk menemukan satu hal saja yang bisa merangkaikan pemaknaan terhadap makna tangis. Tidak ada yang boleh sia-sia termasuk airmata, begitu kata kepalaku. Satu frase kehidupan muncul dan satu alsan datang memberikan ruang kepada airmata bahwa kedatangannya tak akan menjadi sia-sia.

                  Hatiku mulai lega, apa yang ia butuhkan akan segera datang. Ia berharap setidaknya airmata mampu sedikit menumpahkan kegelisahannya. Airmata mulai bekerja menuju sudut-sudut mataku untuk segera meluncur bebas bersama jutaan ceritanya yang ingin hatiku lepas. Tiba-tiba kepalaku, entah menyuarakan kepala siapa berteriak, kamu tidak boleh menangis!!!!!!

                   Suara itu yang entah muncul darimana kembali membuat sistem kerja airmataku berhenti begitu saja. Hatiku mulai muak, ia lelah untuk meminta. Kepalaku semakin kukuh untuk menolak airmata. Setidaknya begitu, kenapa terkadang manusia berbohong kepada dirinya sendiri. Termasuk aku.

Takut

Pernahkah kamu merasa takut? Takut sampai rasanya tulang-tulangmu lemas, sampai rasanya kamu tak bisa bernafas dengan benar, sampai rasanya kamu menyalahkan semua keadaan, sampai rasanya kamu ingin mati detik itu juga. Pernahkah? AKu pernah, sekali dan tak akan terulang!
Aku pernah begitu takut, ingat sekali aku pada hari itu. Hari di mana aku menjadi begitu lemah, ambruk semua benteng pertahananku. Aku ketakutan, jauh lebih menyedihkan dari anak kecil yang takut dimarai ibunya karena ketahuan merokok, jauh lebih takut daripada menanti hasil kelulusan, jauh lebih takut dari apa rasa takut yang pernah ku bayangkan sebelumnya. Dan takut yang menyedihkan, karena semua terjadi begitu saja, tanpa ada persiapan, tanpa aku merasa melakukan kesalahan, tanpa Tuhan beri aba-aba padaku untuk setidaknya bersiap diri. Aku pernah, pernah begitu merasa takut.
Tahukah kamu kapan itu? Coba pikir ulang-ulang karena kamu pasti tahu. Rasa takut yang menderaku itu tentu sangat kamu kenal, sangat kamu pahami dan sangat kamu resapi. Rasa takut yang berasal darimu! Menggelayut manja pada batinku, pernah begitu. Tak ingatkah kamu?
Kamu tidak ingat???
-Ketika kamu mencintainya.

Tunggu

Semoga malam menyembuhkan mereka yang sakit namun hanya bisa diam ….

Aku menunggu, sedetik dua detik, semenit dua menit, sejam dua jam, sebulan dua bulan, terus begitu .. mungkin aku akan lelah, atau tidak sama sekali, mungkin aku akan jemu atau justru semakin suka menunggu …

Hanya saja, aku menjadi begitu tak mengerti sekarang ..
tak ada yang menyuruhku menunggu, tak ada yang menjanjikan apa pun dengan aku menunggu, tak ada yang menunggu aku tunggu, tak ada yang tertunggu dengan aku menunggu, aku hanya menunggu pada ketertungguanku sendiri …

Senja telah menjadi semakin tua dan tua, dan didalam masa menungguku banyak sekali yang terjadi dan terlewati .. ada banyak tangis, tawa, sedih sedih sedih kemudian gembira, suka suka suka kemudian luka dan semua rasa ..

Aku hanya menunggu sampai nanti, nanti aku lelah mencari apa yang membuatku menunggu ,,,

Semoga pagi membangunkan mereka yang luka dan menawarkannya ….

Aku akan segera mengerti, karena semua telah menjadi lain dan berubah .. Aku sulit mengerti karena kamu tak pernah mengatakan apa pun .. aku hanya selalu sibuk menerka, menebak, salah dan salah! dan aku yang selalu salah …
Mungkin, mungkin akan lebih baik jika aku melepas ketungguanku .. dan membiarkan semua berlalu ..

Malam akan segera layu dan pagi segera membabi buta,,,
sementara aku, kamu dan kita adalah kelepasan pada keterikatan yang semu … tidak pernah terjadi apa-apa.

Tutur Pagi

selamat pagi ….
selamat pagii semua yang menjadi unsur-unsur pagi ini …

hemmm .. pagi yang bagaimana ini? aku menjadi begitu melankoli ..
Tuhan telah menciptakan manusia dengan berbagai kehidupan mereka sendiri-sendiri. Tuhan telah begitu adil memilihkanku berbagai macam keindahan, dan Tuhan telah sangat begitu adil memilihkanku berbagai penderitaan …

Tuhan tahu, jauh jauh jauuuh lebih besar dari yang tidak aku tahu .. hanya sering aku kurang sabar .. Tuhan tahu, sangat sangat sangat teramat tahu bagaimana harusnya aku … hanya sering aku tidak sabar …

Aku baik-baik saja, jauh lebih dari baik-baik saja .. cuma beberapa waktu lalu menjadi begitu egois pada diri sendiri. Manusia memang begitu kadangkala bukan? merasa hidupnya paling penting, tak mau mengaca pada waktu ..aku begitu beberapa waktu lalu.. tapi tidak sejak pagi ini …
ada yang harus berlalu, diyakini, kemudian dibiarkan berkembang sendiri ..
ada yang harus dilewati, ditangisi, kemudian dikenang dengan senyuman ..
ada yang harus beberapa kali ditulis, dibaca, kemudian menjadi bosan …

Pagi yang teduh, ,
seperti cerita yang terikat pada satu satuan waktu yang terurai dalam bayang keraguan ..
aku percaya, seperti kalian juga percaya, hanya saja kita selalu dibatasi sudut pandang ..

Selamat pagii harapan, selamat pagi kenangan ..
aku mengingat, teringat, diingatkan … tapi tak berarti aku akan terus mengenang ..
semua sudah berakhir begitu saja .. pada pagi yang begitu teduh …

Sepenggal Cerita

Suatu harii nanti mungkin kita akan sama-sama tertawa mengenang saat-saat ini. Tentu pada waktu dan keadaan yang semakin berbeda. Atau mungkin beberapa hal akan terlewat begitu saja tanpa perlu diingat.
Hidup itu seperti sebuah novel, ada beberapa bagian yang membuat tertawa, ada beberapa bagian lain yang membuat haru. Dan beberapa lembar dibagiannya seringkali susah dimengerti, harus dibaca berulang-ulang kemudian baru kita akan memahami. Kita tak akan memahami sebuah akhir jika kita tak mengikuti alur, begitu pula hidup. Kita adalah penulis, penulis kehidupan yang berhak memilih jalan-jalan yang ingin kita lalui. Seringkali terjal, menanjak, kemudian landai, datar, berpasir, ditemani pelangi, hujan dan banyak kemungkinan lain. Kita adalah pemilih, setiap jalan yang kita lalui adalah pilihan-pilihan kita sendiri.
Atau hidup itu seperti sebuah lagu? Dimana nada minor dan mayor saling beradu ..
Tawa, tangis, luka, cinta, kehambaran, kehilangan, mengikhlaskan, membenci, menyayangi, memberi, menerima, kalah, menang adalah proses .. setiap detiknya adalah kenangan, setiap menitnya adalah kesempatan, setiap waktu adalah cerita .. dan setidaknya kita punya beberapa cerita yang sama .. entah kemudian akan kita tertawakan atau akan terlewat begitu saja ..
Hidup mengajari kita banyak hal ,, kita hanya perlu belajar …
Selamat dan Semoga ..