Yang Mana???

“Kamu mau yang mana? yang hijau, biru, ungu, hitam, putih, jingga?? atau yang mana?? Sebut saja yang kamu mau, sesukamu, ada semua di sini.”
“Tidak ada yang membuatmu tertarik? serius? aku tak tahu selera macam apa itu sampai kamu tak tertarik sama sekali.”
“Apa katamu??”



“Hei, apa katamu? Aku tak mendengar!!”
“Oh, aku yang memilihkan? Baiklah.”
“Tapi aku tak tahu seleramu, kamu suka yang bagaimana?”
“Apa? Haha, iya bodoh juga aku, kalau kamu tahu yang kamu suka pasti kamu tak akan meminta tolong padaku ya.”

“Ah, kamu membuatku gila!! Kalau kamu sendiri tidak tahu, bagaimana mungkin aku lebih tahu??”

Aku tidak bisa memilihkan untukmu, tentu tidak bisa, sangat tidak bisa. Ini tidak sederhana, aku tidak bisa, jangan memaksa.

“Jangan memaksa! Pilih saja sendiri, tinggal pilih saja repot. Kamu tinggal tunjuk, selesai. titik.”

Aku bukan tidak ingin, aku ingin memilihkan untukmu. Dengan seleraku, dengan yang aku suka. Mungkin kamu akan ikut suka, tapi sekali lagi, ini tidak sesederhana itu. Tapi kenapa kamu bertingkah begitu, jangan, jangan begitu, lihatlah dan dengarkan aku.

“Sudahlah, kalau memang tak ada yang kamu suka ya pergi saja. Gampang kan? jangan persulit aku. Atau kamu membutuhkan orang lain untuk memilihkan? Panggil saja dia, aku akan menunggu di sini sampai kamu memilih. Bagaimana??”

Tidak, jangan panggil siapa pun. Aku tidak kuat melihatnya. Jangan!

“Kenapa? Oh, kamu sudah memanggilnya? Kapan dia datang? Jangan lama-lama ya.”
“Ha? Bukan, bukan aku tidak mau menunggu dia datang tapi kalau bisa ya jangan lama-lama. ,hehe”
“Tenang, aku tunggu kok.”

Hancur!!!!

Hancur!!!!!!!

“Apa? Maaf aku tidak melamun kok. Eh, sudah jam berapa ini?”
“Iya, aku tidak punya jam dan tidak suka memakai jam tangan.”
“Haha, bukan, kulitku tidak alergi. Cuma tidak mau terikat pada waktu.”
“Iya, biarkan mengalir. Bukan tidak memiliki prioritas, tapi tidak mau dikejar prioritas.”
“Kenapa jadi ngelantur? mana dia? kok lama?”
“Oh, sebentar lagi ya.. baiklah.”

Akan segera berlalu, tidak apa-apa, pasti bisa. Waktu, bisakah berjalan lebih cepat, atau berhenti sama sekali.

“Iya, oh ini ya orangnya?”
“Jadi, mau pilih yang mana??

Kenapa mereka saling berbicara begitu di depanku. Tidak apa-apa ding. Apa-apa lah! Tuhan, tidak apa-apa. Senyum, senyum, senyum, tidak apa-apa.

“Oh yang ini? Iya, bagus kok. Sudah terpilih kan? Aku pergi dulu ya.”
“Tidak, tidak ada keperluan tapi kalau semua sudah selesai aku harus pergi.”
“Iya-iya, kalian juga baik-baik ya. Aku pergi dulu.”

Kembali pada jalanan ini. Jalanan ini pernah mengantarkan kita pada suatu hari yang tercatat dalam kenangan. Aku menapaki lagi jalan ini, berbalut kerinduan yang entah kepada apa. Sepi. Sunyi. Tak ada yang tersisa di sini. Cobalah tengok kehatimu, pasti pun juga telah hilang semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s