Satu Alasan

                 -Aku ingin menangis, sangat ingin ,,, itulah doaku pagi ini-
Aku lupa sejak kapan aku kehilangan persediaan air mata. Kantung air mataku sama sekali tak ketemui disaat-saat aku membutuhkannya. Lalu aku mulai menyadari, aku lupa cara menangisi ….
Hatiku mulai sering mengeluh pada kepalaku, ia ingin menangis, tidak sekedar merasakan tapi kepalaku samasekali tak mau mendengar kata tangis. Aku tak mengerti. Menangis jadi hal yang menakutkan untuk sebagian dariku dan menjadi sangat dibutuhkan untuk bagian yang lain. Setiapkali air mata telah menggenang disudut mataku, akan ada, entah, kekuatan yang datang dari mana menarik kembali calon air mata itu. Dan aku selalu gagal menangis.
Pagi ini aku masih ingin menangis, begitu kata hatiku. Sementara kepalaku masih kukuh tak mau menerima kosakata tangis. Kesadaran akan kenyataan menarik-narikku tentang pemaknaan terhadap tangis. Aku mengerti, tidak ada alasan untukku menangis. Lalu hatiku mulai berkata, bukankah kita tak perlu alasan untuk sekedar menangis????

                  Kepalaku mulai berpikir. Merangkai kejadian demi kejadian sementara hatiku mulai merasa lelah karena terlalu ingin menangis. Keras sekali kepalaku mencoba untuk menemukan satu hal saja yang bisa merangkaikan pemaknaan terhadap makna tangis. Tidak ada yang boleh sia-sia termasuk airmata, begitu kata kepalaku. Satu frase kehidupan muncul dan satu alsan datang memberikan ruang kepada airmata bahwa kedatangannya tak akan menjadi sia-sia.

                  Hatiku mulai lega, apa yang ia butuhkan akan segera datang. Ia berharap setidaknya airmata mampu sedikit menumpahkan kegelisahannya. Airmata mulai bekerja menuju sudut-sudut mataku untuk segera meluncur bebas bersama jutaan ceritanya yang ingin hatiku lepas. Tiba-tiba kepalaku, entah menyuarakan kepala siapa berteriak, kamu tidak boleh menangis!!!!!!

                   Suara itu yang entah muncul darimana kembali membuat sistem kerja airmataku berhenti begitu saja. Hatiku mulai muak, ia lelah untuk meminta. Kepalaku semakin kukuh untuk menolak airmata. Setidaknya begitu, kenapa terkadang manusia berbohong kepada dirinya sendiri. Termasuk aku.