Sepenggal Cerita

Suatu harii nanti mungkin kita akan sama-sama tertawa mengenang saat-saat ini. Tentu pada waktu dan keadaan yang semakin berbeda. Atau mungkin beberapa hal akan terlewat begitu saja tanpa perlu diingat.
Hidup itu seperti sebuah novel, ada beberapa bagian yang membuat tertawa, ada beberapa bagian lain yang membuat haru. Dan beberapa lembar dibagiannya seringkali susah dimengerti, harus dibaca berulang-ulang kemudian baru kita akan memahami. Kita tak akan memahami sebuah akhir jika kita tak mengikuti alur, begitu pula hidup. Kita adalah penulis, penulis kehidupan yang berhak memilih jalan-jalan yang ingin kita lalui. Seringkali terjal, menanjak, kemudian landai, datar, berpasir, ditemani pelangi, hujan dan banyak kemungkinan lain. Kita adalah pemilih, setiap jalan yang kita lalui adalah pilihan-pilihan kita sendiri.
Atau hidup itu seperti sebuah lagu? Dimana nada minor dan mayor saling beradu ..
Tawa, tangis, luka, cinta, kehambaran, kehilangan, mengikhlaskan, membenci, menyayangi, memberi, menerima, kalah, menang adalah proses .. setiap detiknya adalah kenangan, setiap menitnya adalah kesempatan, setiap waktu adalah cerita .. dan setidaknya kita punya beberapa cerita yang sama .. entah kemudian akan kita tertawakan atau akan terlewat begitu saja ..
Hidup mengajari kita banyak hal ,, kita hanya perlu belajar …
Selamat dan Semoga ..

Yang Entah Bagaimana

Jika aku menulis, jika aku tidak menulis, jika aku mengatakan, jika aku tak mengatakan …..

menjadi begitu menyakitkan ketika kesadaran menarikku terus pada kenyataan. Pada yang sudah terjadi, yang tak mungkin diulangi. Karena setiap tindakan ternyata tak mampu membuat lebih yakin dari bait-bait kata …
tapi, bukankah tindakan adalah kata-kata yang paling benar???
hanya saja, kita, (aku), tak berhak untuk memaksa apa yang Anda baca dari tindakanku sama seperti apa yang aku maksud dengan melakukan tindakan-tindakan itu ..

Ah, mengapa menjadi begini rumit??
Andai semua bisa diringkas dengan mudah agar aku bisa lebih mudah mencerna. Tidak, aku bukan tak bisa menerima yang terjadi. Aku hanya belum selesai menerjemahkan semuanya. Dan aku tak punya banyak kosa kata untuk mengungkapkannya, semua habis, tercekat di sini. Tak ada yang bisa aku terjemahkan dengan sempurna, aku tak bisa, terlalu tak mengerti aku.

Apa pun itu, bagaimana pun itu terjadi dan kenapa pun itu terjadi.
Tidak perlu rasanya ada yang menjadi salah atau benar, menjadi lebih kasihan atau lebih bahagia, menjadi tokoh utama atau tokoh sampingan. Karena yang sakit, biarlah menjadi sakit dan yang bahagia biarlah bahagia. Begitulah hidup. Titik.