Kepada Pramoedya Ananta Toer

Dengan tersipu, gugup, sesekali tersenyum dan kaki yang terus digigiti nyamuk aku menuliskan surat ini untukmu Pram. Yang dengan penuh ketulusan hati begitu aku kagumi.

Tidak, aku tak ingin menyebutmu dengan Anda, Sampeyan, Panjenengan, Kisanak, Bapak, Om atau Kakek, aku ingin menyebutmu dengan kamu. Iya, kamu, dengan begitu aku merasa mesra denganmu. Jangan takut, tak apa bermesraan dengan penggemarmu. Karena aku pun selalu dengan mesra menikmati tulisanmu. Dengan tulisan aku mengenalmu, dengan tulisan aku mengagumi, dengan tulisan aku merasa mesra denganmu dan dengan tulisan aku mengatakan dengan tulus, “Tak kah begitu penjajahnya kamu telah begitu saja merusak sistem otak kiriku dengan pikiran-pikiran menakjubkanmu?”

Seorang teman mengatakan padaku tentang Menulis Surat Untuk Pram, tiba-tiba aku menjadi begitu bergairah ingin juga. Jangan buru-buru berfikiran aku terlalu liar, tidak, aku hanya ingin menyampaikan padamu tentang kegilaanku pada tulisanmu. Dan jangan berfikir ini surat Cinta Pram, bukan, meski pun tak bisa ku pungkiri aku menyintai karya-karyamu dan bermesraan dengan mereka. Dan satu hal yang kemudian aku sedikit sedih ketika menulis ini adalah kesadaran bahwa kamu tak akan pernah membaca tulisan ini. Begitu banyak kata yang kamu tulis dan aku baca, sayangnya tak ada satu pun kata dariku yang bisa kamu baca. Ini terasa tidak adil, aku menjadi sedikit melankolis dan mulai membabi buta menghajar nyamuk yang menggigitiku dari tadi. Tapi tak apa, aku tetap akan menuliskannya untukmu, sebagai rasa terimakasihku padamu, untuk semua karya-karyamu yang begitu indah dan menakjubkan.

Pram, beberapa waktu lalu aku membaca cerita tentang Damar Wulan. Tentu kamu tahu? Ya, tentang kerajaan Majapahit, Menak Jinggo dan pemberontakannya. Tidak, aku tak hendak bercerita padamu karena akan membosankan sekali menceritakan hal yang sudah kamu tahu. Aku ingin menyampaikan pendapatku padamu tentang kedua istri Menak Jinggo yang tertarik pada ketampanan Damar Wulan dan mengkhianati suaminya. Aku teringat pada tokoh Nyai Ontosorohmu Pram dan aku menjadi membandingkan keduanya. Sejahat-jahatnya suaminya, toh Nyai Ontosoroh meski pun bersikap tegas tak pernah mengkhianati suaminya yang menjadi tidak waras dan berkelakuan keterlaluan ?
Dan aku menjadi begitu benci kepapa kedua istri Menak Jinggo itu dan entah mengapa kepada Damar Wulan juga. Memang, ia akhirnya menjadi pahlawan tapi ia begitu licik. Apa bedanya dengan Belanda yang dengan sifat liciknya telah menjajah kita? Bahkan kemenangan kerajaan-kerajaan kita dulu diperoleh dengan kelicikan dan Damar Wulan dikenang sebagai pahlawan sementara Menak Jinggo sebagai pemberontak. Pahlawan? pahlawan perebut istri orang? iya kan Pram? aku tiba-tiba teringat pada teman sekolah Minke yang menyintai Annelies. Tapi aku tak bisa menyalahkan Damar Wulan sepenuhnya, aku tahu ia bertindak begitu karena perintah dari Ratu Majapahit. Ah, ini jaman Damar Wulan masih terbawa sampai novelmu Bumi Manusia ketika Minke harus tertunduk merangkak didepan Ayahnya yang Bupati bukan?

Begini Pram, karena kamu telah menuturkan padaku tentang jamanmu dulu lewat tulisan, aku pun demikian juga, ingin menuturkan padamu tentang jamanku dalam kacamataku lewat tulisan pula.

Pram, kalau dulu untuk mendapatkan pendidikan masih begitu susah mungkin sekarang bisa lebih mudah meski pun masuh banyak anak gelandangan yang tak mendapatkannya. Tapi Pram, hal yang diperoleh dengan lebih mudah itu pula yang kemudian tak mendapat penghargaan yang baik pula. Sungguh Pram, bersekolah dan mencari ilmu hanya menjadi suatu formalitas, bagian dari kehidupan yang dijalani karena memang harus dijalani bukan karena ingin dijalani. Malu aku menceritakan padamu tentang bagaimana bangsa ini menjadi semakin rusak kini, ketika dulu kamu berjuang dengan tulisan-tulisanmu kami kini justru sibuk dengan diri kami sendiri. semua orang sibuk membentengi diri dan menjadi individualis-individualis yang jijik dengan kebersamaan. Aku tak melebih-lebihkan, semua orang sekarang sibuk menceritakan dirinya sendiri, sibuk merasa paling menderita, merasa paling bahagia, merasa paling cantik, merasa paling jelek, merasa paling harus didengarkan tanpa mau mendengarkan. Begitu memalukan kah kami Pram???

Dan aku adalah seorang mahasiswa sastra Pram. Malu aku mengaku seorang mahasiswa sastra padamu Pram, malu sekali rasanya jujur kepadamu bahkan aku tak hafal siapa penulis Nyai Dasima. Karena sekarang menjadi mahasiswa adalah sebuah profesi, bukan menuntut ilmu, tapi profesi agar kami terlihat gagah, terlihat “sesuatu” di depan masyarakat padahal kami nol besar, tak tahu apa-apa. Ah, kenapa aku jadi begitu bersemangat mengeluh padamu. Tapi, tak semua dari kami begitu buruk Pram, masih ada beberapa yang juga pantas dibanggakan.

Rasanya aku masih begitu ingin menulis banyak kepadamu, tapi nyamuk-nyamuk dikakiku terasa semakin menyiksa. Lihatlah, aku menulis segini saja sudah terus mengeluh padahal kamu dulu bahkan harus menulis ketika diperasingan. Tak kah kamu lihat bagaimana jaman telah merubah banyak hal dan membuatnya semakin buruk??