Anakku Lanang

Namaku Rusmini, aku seorang ibu dari seoarang putra yang teramat kucintai. Anakku cuma satu itu, itu saja aku mempertaruhkan nyawaku saat ia mau keluar dari garbaku. Tak tahulah aku kenapa ia begitu ingin cepat-cepat keluar, mungkin sifat bapaknya yang sukanya buru-buru itu menular padanya bahkan sejak ia dibalut ari-ari. Harusnya menurut hitungan Bu Bidan, ia baru keluar 15 hari lagi. Tapi tak apalah, anakku yang ganteng mungkin sudah tak sabar membuat ibunya tersenyum bahagia melihat wajah gantengnya.

Saat aku melahirkannya dulu, 21 tahun yang lalu, tak ada suamiku disampingku. Halah, aku juga tak membutuhkannya, aku tak akan bersedih seperti sinetron-sinetron cengeng itu. Aku tak mau bersedih saat anakku yang kulitnya kemerahan, alisnya tebal tegas, tangisnya keras menggeliat masih berlumur darah dan ari-ari menempel diperutnya diletakkan Bu Bidan diatas dadaku. Anakku lanang, aku mencintaimu.

Anakku memang spesial, ia sepertinya tahu ibunya itu suka martabak spesial maka ia lahir sebagai sosok yang spesial . Dari hari lahirnya saja sudah menunjukkan bahwa ia anak yang istimewa, senin Pahing, kata ibuku itu tanggal yang bagus, pertanda baik, aku mengamini. Anakku yang lanang, harus menjadi istimewa. Dihari kelahirannya itu, aku ingat betul, suara adzan pertama yang ia dengar keluar dari  mulut Lik Narto, adik ibuku. Entah Bapaknya kemana, aku tak mau ambil pusing, tak mau besedih, sejak anakku dikandunganku dan ia besar aku tak akan bersediah sebab kesedihanku adalah kesedihannya aku tahu, si ari-ari adalah penyampai pesan sedih itu. Ia akan tetap menyampaikan pesan sedihku meski pun kelak ia terputus dari wudel anakku. Aku bisa merasakannya.

Aku membesarkan anakku dengan cinta yang begitu besar. Iya, cinta ibu, hanya memberi tak harap kembali. Aku benar-benar merasakan cinta yang seperti itu. Betapa aku ikut sakit kalau anakku lanang sakit, pernah suatu hari badannya begitu panas. Matanya terpejam, tapi mulutnya terus merunyam, aku panik, mataku memanas ingin menangis, tapi aku tak boleh menangis. Bapaknya entah kemana, aku tak mau peduli. Malam-malam ku ketuk pintu rumah Bu Bidan yang sudah gelap, ingat betul aku bu Bidan marsinah yang saat itu sudah agak menua membuka pintu dan langsung mengambil peralatan sekedarnya setelah kuceritakan keadaan anakku. Anakku, kata Bu Bidan kamu STEP, apa pulalah itu, Ibu tak paham. Usiamu lima tahun saat itu. Anakku yang lanang, jangan membuat ibumu ketakutan bisikku ketelingamu saat itu setelah Bu Bidan pulang.

Anakku tumbuh menjadi laki-laki yang ganteng, pinter dan berbakti. Aku tak mempersoalkan kalau nilai sekolahnya buruk, tak apa, nilai tak hanya didapat dari sekolah. Pinter buatku bukan kalau nilai anakku 10 semua atau kalau ia ranking satu. Bukan, bagiku ia pinter kalau ia memelukku tiap ia besedih, kalau ia mencium tanganku dan bercerita banyak hal padaku, kalau ia tak malu membuka rahasianya padaku. Anakku, teruslah menjadi anak yang pinter karena ibumu ini tak mau salah mengenalimu.

Bapak dari anakku sampai anakku berusia 21 tahun sekarang memang tak pernah dekat dengan anakku. Jangan ditanya, aku tentu sedih anakku sangat kurang mendapat perhatian dari Bapaknya. Tapi aku sudah berjanji tak akan bersedih, karena ari-ari akan mengatakannya pada anak lanangku. Suamiku itu, aku tahu punya perempuan lain diluar sana. Mungkin satu, mungkin dua, mungkin tiga, atau berapa pun. Apa peduliku, anakku adalah satu-satunya yang harus aku pedulikan. Dia hidupku.

Anakku lanang, yang dulu kecil suka menangis dipangkuanku sampai tertidur, yang dulu kecil masih suka mengompol, yang suka memaksaku mengantarnya mengaji karena ia takut pada pohon asem dipinggir jalan sudah dewasa sekarang. Rasanya baru kemarin aku mengantarnya sekolah Tk, rasanya baru kemarin ia menangis terjatuh dari sepeda baru yang kuhadiahkan. Anakku lanang, ingatkah kamu? Usiamu 16 tahun waktu itu. Kamu mengetuk pintu kamar ibu, ibu mendapatimu berdiri didepan kamar ibu dengan mata bengkak. Kamu menangisi, siapa namanya le? Perempuan yang kamu tangisi itu? Ibu lupa . Kamu menangis memeluk ibu seperti waktu kamu kecil. Sudah lama kamu tak begitu membuat ibu kaget waktu itu. Ibu masih ingat waktu itu ibu mengatakan padamu kalau cinta itu memang berat. Anakku lanang, sejak hari itu tak pernah rasanya ibu melihatmu menangis karena perempuan. Sudah pintar sekarang kamu le sama yang namanya perempuan? Le, ibumu ini perempuan, mengerti mereka seperti kamu mengerti ibumu ini.

Aku tahu bapak dari anakku itu, yang pulang sesekali dalam sebulan. Yang kepulangannya hanya untuk meminta uang padaku itu tak dekat dengan anakku yang juga anaknya. Bahkan anakku lanang sangat membencinya. Hal tersedih dalam hidupku yang aku tak akan pernah menunjukkan pada anakku adalah menyadari anak yang sangat aku sayangi membenci Bapaknya sendiri, laki-laki yang bagaimana bejat tingkahnya adalah laki-laki yang aku cintai.

Ingat betul aku anakku dulu sering menanyakan keberadaan bapaknya, aku masih bisa membuat alasan dulu. Mengarang cerita ini, itu untuk menenangkan anakku. Tapi anakku lanang yang gagah itu sudah besar sekarang. Ia tak perlu bertanya lagi padaku bapaknya dimana, ia sudah tahu sendiri. Aku sebenarnya berharap ia tak pernah tahu karena aku tahu ia akan membenci bapaknya sendiri. Bapak yang mengalirkan darah kedarahnya. Duh Gusti, tak bisa aku tak bersedih melihat mata kebencian anakku tiap kali melihat bapaknya.

Anakku yang kemudian tumbuh dewasa dan bisa membaca keadaan mulai sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab. Yang sebenarnya ia tahu jawabannya tapi membutuhkan kepastian dariku, ibunya. Aku tahu, ia tahu aku sedih, ari-ari menyampaikan pesan sedihku padanya. Ini adalah kegagalanku menyembunyikan kesedihanku, atau ari-ari yang memang terlalu peka, entahlah. Anakku tahu kini, ibunya dan bapaknya tak seperti ibu dan bapak yang sewajarnya.

Anakku tak pernah marah padaku atau menyalahkanku atas keadaan ini, aku bersyukur untuk itu. Tak bisa aku bayangkan kalau anakku lanang yang dengan pertaruhan nyawaku ini kulahirkan membenciku, bagaimana aku bertahan hidup kalau begitu. Anakku membenci bapaknya, anakku tak mau menyapa bapaknya lagi, terkadang ia memilih menginap ditempat teman-temannya kalau bapaknya sedang di rumah. Anakku, tak pernah ibumu ini bermaksud membuatmu tak nyaman di rumah. Sama sekali tak pernah.

Anakku lanang, ibumu ini, yang mulai renta sekarang meminta maaf padamu. Untuk semua kekurangan yang kamu rasakan. Ibumu tak bisa membuat bapakmu ada terus di rumah memberimu perhatian layaknya seorang bapak sejak kamu kecil. Ibumu ini, kekurangan ibu ini yang membuatmu membenci bapakmu sendiri. Duh, anakku lanang, ibu Cuma bisa membuatnya pulang sesekali dalam sebulan. Tentu sangat kurang untukmu.

Anakku lanang, tak ada yang lebih berharga untuk hidup ibumu ini kecuali kebahagiaanmu. Senyummu, senyummu anakku adalah hujan dimusim kemarau panjang. Senyummu adalah mekar anggrek di hutan belantara. Anakku, berhentilah membenci bapakmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s