HUJAN

Hari ini hujan.
Aku masih sibuk bercerita pada dua sahabatku ketika Bu dosen masuk kelas, hari ini ujian semester mata kuliah Fiksi. Dan kelas yang tadinya begitu berisik mulai sedikit tenang, Bu dosen duduk dengan santai, menyerahkan kertas folio pada ketua kelas untuk dibagikan dan kemudian berkata dengan tenang.

“ Hari ini hujan, “ katanya kemudian menarik nafas sambil mengedarkan pandangan.

“ Untuk ujian hari ini tulislah tentang hujan sesuka kalian, saya beri waktu satu setengah jam, kumpulkan dimeja kantor saya” kemudian beliau melangkah meninggalkan kelas.

Aku menghela nafas panjang, mulai mencari ide. Tak mungkin aku menulis tentang definisi hujan, itu tugas anak IPA. Dua halaman kertas folio tergeletak pasrah dimejaku, sementara semua temanku mulai menulis. Aku tak tahu harus menulis apa, hujan diluar semakin deras, rintiknya semakin rapat dan aku semakin tak tahu harus memulai menulis tentang hujan dari mana. Malah kemudian anganku jauh meninggalkan kelas ini, jauh kerintik hujan yang bukan hari ini.

Hari ini hujan. Aku tergesa menuju ketempat dimana kita berjanji untuk bertemu, jas hujan yang kugunakan tak mampu sepenuhnya melindungiku dari deras hujan hari ini, aku basah. Kamu sudah menunggu, basah juga, dibawah sebuah papan reklame kamu duduk diatas sepedamotormu. Wajahmu basah, bajumu basah dan kamu menggigil. Dan kita sepakat untuk mencari makanan penghangat, aku yang memilih tempatnya, sebuah warung bakso kegemaran ibuku.

“ bakso dua, jeruk anget dua Pak,” katamu sebelum duduk.

“ jeruk itu minuman paling menyegarkan, “ lanjutmu kemudian setelah duduk disampingku. Aku hanya tersenyum, aku juga pecinta minuman jeruk, tapi aku enggan mengatakan, kamu tak akan peduli, aku tahu.

Malam yang hujan itu kita makan bakso di warung kegemaran ibuku, yang katamu beberapa waktu berikutnya bakso itu kurang enak, aku hanya tertawa. Aku masih ingat, malam itu aku lupa membawa beberapa batang lollipop yang sengaja kubeli untuk menemani perjalanan pulangmu. Tapi aku lupa membawanya, tertinggal dimeja kamarku, aku terlalu tergesa ketika pergi saat itu. Ah, aku pun tak mengatakan tentang lolipop itu padamu. Sekali lagi, kamu tak akan peduli.

Hari ini hujan. Aku mengurung diriku dikamar kost sejak pagi. Hujan belum juga reda, malah semakin deras, sudah malam ketika aku keluar dari kamar menuju kelantai tiga bangunan kost. Aku duduk dikursi panjang dilantai tiga kostku yang tanpa atap, tempat anak-anak kost menjemur pakaian mereka, aku biarkan hujan membasahi wajahku, bajuku, tubuhku dan kemudian aku menangis. Entah apa yang aku tangisi, aku ingat, tapi aku tak mau mengingatnya. Mungkin aku menangisi ketidakmampuanku sendiri, yang jelas aku menangis seperti anak kecil malam itu. Lama, hujan tak juga reda dan tangisku tak juga berhenti.Sampai salah seorang teman kostku muncul hendak mengambil sepatu yang ia jemur, ia menatapku heran.

“ kayak anak kecil ujan-ujanan” katanya sambil menatap sepatunya yang sudah basah kuyub.

“ hahahaha, biarkan saja sepatunya buat apa diambil, basah juga” kataku, tanpa mempedulikan kata-katanya.

Dan kemudian dengan tatapan herannya ia pergi tanpa sepatunya. Hujan. Aku suka hujan karena tak akan ada yang bertanya tentang air mata dibawah hujan.

Sudah berjalan setengah jam dan aku belum menulis apa pun, aku sibuk menggigiti ujung pulpenku sambil terus melamun jauh. Aku tak tahu harus mulai menulis dari mana tentang hujan.

Hari ini hujan. Di warung bakso kegemaran ibuku, ketika kita sedang menunggu pesanan datang kamu sibuk mengelap wajahmu dengan tisu, mencoba sedikit mengeringkan, sementara aku sibuk memperhatikanmu. Radio tua pemilik warung memutar lagu campursari, kemudian kamu menatapku tersenyum, meliuk-liukkan kepalamu mengikuti alunan musik yang aku tahu kamu pasti tak menyukainya. Kamu tak suka musik dangdut, campur sari dan sejenisnya, terlalu banyak alasanmu dan aku tak mau mengingatnya. Dan kemudian kita tertawa, kamu menertawakan alunan musik itu dan aku menertawakan kelakuanmu.

Hari ini hujan. Masih pagi, pagi terakhir aku menemukan namamu dipesan handphoneku. Semoga kamu, dia, kalian selalu baik-baik saja. Itu pesan terakhirku untukmu, dan beberapa harapan lain yang tulus dari hatiku. Kemudian aku hanya terdiam, mengurung diriku hingga malam sementara hujan diluar tak juga reda sampai aku keluar menuju lantai tiga kamar kostku. Aku masih mengingatnya, dengan sangat baik.

Waktu tersisa setengah jam lagi. Aku belum menulis apa pun sementara teman-temanku sudah mulai meninggalkan kelas satu persatu. Aku menelungkupkan kepalaku ke meja, benar-benar tak tahu harus memulai dari mana menulis tentang hujan. Hingga tinggal lima belas menit lagi, aku harus menulis, tinggal lima orang tersisa di kelas.

HUJAN (tulisku memberi judul ditengah kertas folio).

Hujan adalah semangkuk bakso. Hujan adalah lollipop yang tertinggal dimeja kamar. Hujan adalah tawa, kemudian air mata. Hujan adalah kenangan. Dan kenangan, semanis atau sepahit apa pun itu tetap akan menyisakan kesedihan ketika dikenang. Karena kenangan hanya akan datang ketika waktu sudah sangat berubah dan semakin berubah. (aku berhenti menulis, tak tahu harus menulis apa lagi).

Aku benar-benar tak tahu harus menulis apa lagi, aku serahkan kertas folioku pada ketua kelas dan berjalan keluar kelas. Ah, hari ini masih hujan.

Iklan

2 thoughts on “HUJAN

  1. rheyvana berkata:

    ndak ada yg baru tante?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s