sisa tahun

Ada beberapa orang yang menghabiskan waktu disisa tahun dengan beramai-ramai mewarnai langit dengan kembang api

Ada beberapa orang yang menghabiskan waktu disisa tahun dengan memandang ombak pantai yang bergemuruh

Ada beberapa orang yang menghabiskan waktu disisa tahun dengan makan malam penuh lilin, saling menatap dan kemudian merencanakan keindahan tahun depan

Ada beberapa orang yang menghabiskan waktu disisa tahun dengan tidur nyaman di rumah, seperti biasa, bukan hal istimewa

Sedang aku menghabiskan waktu disisa tahun dengan mengingatmu,

Dalam kenangan,

Yang sakit menjadi semakin sakit

Yang indah berubah menjadi kerinduan yang menyakitkan ..

Aku menghabiskan waktu disisa tahun dengan harapan-harapan

Tentangmu,

Tentang kebahagiaanmu

Ada yang akan menangis ketika merasa kehilangan

Ada yang akan hanya diam kemudian melupakan ketika merasa kehilangan

Ada yang akan begitu saja menemukan yang baru dan tak pernah merasa kehilangan

Sedang aku, aku tak menangis, tak diam, tak menemukan yang baru

Aku mengenangmu dalam kehilangan yang tak pernah hilang

Hilang namun tertinggal

Berbahagialah,

Dalam detak nafasmu, dalam pekat dunia yang semakin gelap ..

Berbahagialah, bersamanya  ..

Anakku Lanang

Namaku Rusmini, aku seorang ibu dari seoarang putra yang teramat kucintai. Anakku cuma satu itu, itu saja aku mempertaruhkan nyawaku saat ia mau keluar dari garbaku. Tak tahulah aku kenapa ia begitu ingin cepat-cepat keluar, mungkin sifat bapaknya yang sukanya buru-buru itu menular padanya bahkan sejak ia dibalut ari-ari. Harusnya menurut hitungan Bu Bidan, ia baru keluar 15 hari lagi. Tapi tak apalah, anakku yang ganteng mungkin sudah tak sabar membuat ibunya tersenyum bahagia melihat wajah gantengnya.

Saat aku melahirkannya dulu, 21 tahun yang lalu, tak ada suamiku disampingku. Halah, aku juga tak membutuhkannya, aku tak akan bersedih seperti sinetron-sinetron cengeng itu. Aku tak mau bersedih saat anakku yang kulitnya kemerahan, alisnya tebal tegas, tangisnya keras menggeliat masih berlumur darah dan ari-ari menempel diperutnya diletakkan Bu Bidan diatas dadaku. Anakku lanang, aku mencintaimu.

Anakku memang spesial, ia sepertinya tahu ibunya itu suka martabak spesial maka ia lahir sebagai sosok yang spesial . Dari hari lahirnya saja sudah menunjukkan bahwa ia anak yang istimewa, senin Pahing, kata ibuku itu tanggal yang bagus, pertanda baik, aku mengamini. Anakku yang lanang, harus menjadi istimewa. Dihari kelahirannya itu, aku ingat betul, suara adzan pertama yang ia dengar keluar dari  mulut Lik Narto, adik ibuku. Entah Bapaknya kemana, aku tak mau ambil pusing, tak mau besedih, sejak anakku dikandunganku dan ia besar aku tak akan bersediah sebab kesedihanku adalah kesedihannya aku tahu, si ari-ari adalah penyampai pesan sedih itu. Ia akan tetap menyampaikan pesan sedihku meski pun kelak ia terputus dari wudel anakku. Aku bisa merasakannya.

Aku membesarkan anakku dengan cinta yang begitu besar. Iya, cinta ibu, hanya memberi tak harap kembali. Aku benar-benar merasakan cinta yang seperti itu. Betapa aku ikut sakit kalau anakku lanang sakit, pernah suatu hari badannya begitu panas. Matanya terpejam, tapi mulutnya terus merunyam, aku panik, mataku memanas ingin menangis, tapi aku tak boleh menangis. Bapaknya entah kemana, aku tak mau peduli. Malam-malam ku ketuk pintu rumah Bu Bidan yang sudah gelap, ingat betul aku bu Bidan marsinah yang saat itu sudah agak menua membuka pintu dan langsung mengambil peralatan sekedarnya setelah kuceritakan keadaan anakku. Anakku, kata Bu Bidan kamu STEP, apa pulalah itu, Ibu tak paham. Usiamu lima tahun saat itu. Anakku yang lanang, jangan membuat ibumu ketakutan bisikku ketelingamu saat itu setelah Bu Bidan pulang.

Anakku tumbuh menjadi laki-laki yang ganteng, pinter dan berbakti. Aku tak mempersoalkan kalau nilai sekolahnya buruk, tak apa, nilai tak hanya didapat dari sekolah. Pinter buatku bukan kalau nilai anakku 10 semua atau kalau ia ranking satu. Bukan, bagiku ia pinter kalau ia memelukku tiap ia besedih, kalau ia mencium tanganku dan bercerita banyak hal padaku, kalau ia tak malu membuka rahasianya padaku. Anakku, teruslah menjadi anak yang pinter karena ibumu ini tak mau salah mengenalimu.

Bapak dari anakku sampai anakku berusia 21 tahun sekarang memang tak pernah dekat dengan anakku. Jangan ditanya, aku tentu sedih anakku sangat kurang mendapat perhatian dari Bapaknya. Tapi aku sudah berjanji tak akan bersedih, karena ari-ari akan mengatakannya pada anak lanangku. Suamiku itu, aku tahu punya perempuan lain diluar sana. Mungkin satu, mungkin dua, mungkin tiga, atau berapa pun. Apa peduliku, anakku adalah satu-satunya yang harus aku pedulikan. Dia hidupku.

Anakku lanang, yang dulu kecil suka menangis dipangkuanku sampai tertidur, yang dulu kecil masih suka mengompol, yang suka memaksaku mengantarnya mengaji karena ia takut pada pohon asem dipinggir jalan sudah dewasa sekarang. Rasanya baru kemarin aku mengantarnya sekolah Tk, rasanya baru kemarin ia menangis terjatuh dari sepeda baru yang kuhadiahkan. Anakku lanang, ingatkah kamu? Usiamu 16 tahun waktu itu. Kamu mengetuk pintu kamar ibu, ibu mendapatimu berdiri didepan kamar ibu dengan mata bengkak. Kamu menangisi, siapa namanya le? Perempuan yang kamu tangisi itu? Ibu lupa . Kamu menangis memeluk ibu seperti waktu kamu kecil. Sudah lama kamu tak begitu membuat ibu kaget waktu itu. Ibu masih ingat waktu itu ibu mengatakan padamu kalau cinta itu memang berat. Anakku lanang, sejak hari itu tak pernah rasanya ibu melihatmu menangis karena perempuan. Sudah pintar sekarang kamu le sama yang namanya perempuan? Le, ibumu ini perempuan, mengerti mereka seperti kamu mengerti ibumu ini.

Aku tahu bapak dari anakku itu, yang pulang sesekali dalam sebulan. Yang kepulangannya hanya untuk meminta uang padaku itu tak dekat dengan anakku yang juga anaknya. Bahkan anakku lanang sangat membencinya. Hal tersedih dalam hidupku yang aku tak akan pernah menunjukkan pada anakku adalah menyadari anak yang sangat aku sayangi membenci Bapaknya sendiri, laki-laki yang bagaimana bejat tingkahnya adalah laki-laki yang aku cintai.

Ingat betul aku anakku dulu sering menanyakan keberadaan bapaknya, aku masih bisa membuat alasan dulu. Mengarang cerita ini, itu untuk menenangkan anakku. Tapi anakku lanang yang gagah itu sudah besar sekarang. Ia tak perlu bertanya lagi padaku bapaknya dimana, ia sudah tahu sendiri. Aku sebenarnya berharap ia tak pernah tahu karena aku tahu ia akan membenci bapaknya sendiri. Bapak yang mengalirkan darah kedarahnya. Duh Gusti, tak bisa aku tak bersedih melihat mata kebencian anakku tiap kali melihat bapaknya.

Anakku yang kemudian tumbuh dewasa dan bisa membaca keadaan mulai sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab. Yang sebenarnya ia tahu jawabannya tapi membutuhkan kepastian dariku, ibunya. Aku tahu, ia tahu aku sedih, ari-ari menyampaikan pesan sedihku padanya. Ini adalah kegagalanku menyembunyikan kesedihanku, atau ari-ari yang memang terlalu peka, entahlah. Anakku tahu kini, ibunya dan bapaknya tak seperti ibu dan bapak yang sewajarnya.

Anakku tak pernah marah padaku atau menyalahkanku atas keadaan ini, aku bersyukur untuk itu. Tak bisa aku bayangkan kalau anakku lanang yang dengan pertaruhan nyawaku ini kulahirkan membenciku, bagaimana aku bertahan hidup kalau begitu. Anakku membenci bapaknya, anakku tak mau menyapa bapaknya lagi, terkadang ia memilih menginap ditempat teman-temannya kalau bapaknya sedang di rumah. Anakku, tak pernah ibumu ini bermaksud membuatmu tak nyaman di rumah. Sama sekali tak pernah.

Anakku lanang, ibumu ini, yang mulai renta sekarang meminta maaf padamu. Untuk semua kekurangan yang kamu rasakan. Ibumu tak bisa membuat bapakmu ada terus di rumah memberimu perhatian layaknya seorang bapak sejak kamu kecil. Ibumu ini, kekurangan ibu ini yang membuatmu membenci bapakmu sendiri. Duh, anakku lanang, ibu Cuma bisa membuatnya pulang sesekali dalam sebulan. Tentu sangat kurang untukmu.

Anakku lanang, tak ada yang lebih berharga untuk hidup ibumu ini kecuali kebahagiaanmu. Senyummu, senyummu anakku adalah hujan dimusim kemarau panjang. Senyummu adalah mekar anggrek di hutan belantara. Anakku, berhentilah membenci bapakmu.

HUJAN

Hari ini hujan.
Aku masih sibuk bercerita pada dua sahabatku ketika Bu dosen masuk kelas, hari ini ujian semester mata kuliah Fiksi. Dan kelas yang tadinya begitu berisik mulai sedikit tenang, Bu dosen duduk dengan santai, menyerahkan kertas folio pada ketua kelas untuk dibagikan dan kemudian berkata dengan tenang.

“ Hari ini hujan, “ katanya kemudian menarik nafas sambil mengedarkan pandangan.

“ Untuk ujian hari ini tulislah tentang hujan sesuka kalian, saya beri waktu satu setengah jam, kumpulkan dimeja kantor saya” kemudian beliau melangkah meninggalkan kelas.

Aku menghela nafas panjang, mulai mencari ide. Tak mungkin aku menulis tentang definisi hujan, itu tugas anak IPA. Dua halaman kertas folio tergeletak pasrah dimejaku, sementara semua temanku mulai menulis. Aku tak tahu harus menulis apa, hujan diluar semakin deras, rintiknya semakin rapat dan aku semakin tak tahu harus memulai menulis tentang hujan dari mana. Malah kemudian anganku jauh meninggalkan kelas ini, jauh kerintik hujan yang bukan hari ini.

Hari ini hujan. Aku tergesa menuju ketempat dimana kita berjanji untuk bertemu, jas hujan yang kugunakan tak mampu sepenuhnya melindungiku dari deras hujan hari ini, aku basah. Kamu sudah menunggu, basah juga, dibawah sebuah papan reklame kamu duduk diatas sepedamotormu. Wajahmu basah, bajumu basah dan kamu menggigil. Dan kita sepakat untuk mencari makanan penghangat, aku yang memilih tempatnya, sebuah warung bakso kegemaran ibuku.

“ bakso dua, jeruk anget dua Pak,” katamu sebelum duduk.

“ jeruk itu minuman paling menyegarkan, “ lanjutmu kemudian setelah duduk disampingku. Aku hanya tersenyum, aku juga pecinta minuman jeruk, tapi aku enggan mengatakan, kamu tak akan peduli, aku tahu.

Malam yang hujan itu kita makan bakso di warung kegemaran ibuku, yang katamu beberapa waktu berikutnya bakso itu kurang enak, aku hanya tertawa. Aku masih ingat, malam itu aku lupa membawa beberapa batang lollipop yang sengaja kubeli untuk menemani perjalanan pulangmu. Tapi aku lupa membawanya, tertinggal dimeja kamarku, aku terlalu tergesa ketika pergi saat itu. Ah, aku pun tak mengatakan tentang lolipop itu padamu. Sekali lagi, kamu tak akan peduli.

Hari ini hujan. Aku mengurung diriku dikamar kost sejak pagi. Hujan belum juga reda, malah semakin deras, sudah malam ketika aku keluar dari kamar menuju kelantai tiga bangunan kost. Aku duduk dikursi panjang dilantai tiga kostku yang tanpa atap, tempat anak-anak kost menjemur pakaian mereka, aku biarkan hujan membasahi wajahku, bajuku, tubuhku dan kemudian aku menangis. Entah apa yang aku tangisi, aku ingat, tapi aku tak mau mengingatnya. Mungkin aku menangisi ketidakmampuanku sendiri, yang jelas aku menangis seperti anak kecil malam itu. Lama, hujan tak juga reda dan tangisku tak juga berhenti.Sampai salah seorang teman kostku muncul hendak mengambil sepatu yang ia jemur, ia menatapku heran.

“ kayak anak kecil ujan-ujanan” katanya sambil menatap sepatunya yang sudah basah kuyub.

“ hahahaha, biarkan saja sepatunya buat apa diambil, basah juga” kataku, tanpa mempedulikan kata-katanya.

Dan kemudian dengan tatapan herannya ia pergi tanpa sepatunya. Hujan. Aku suka hujan karena tak akan ada yang bertanya tentang air mata dibawah hujan.

Sudah berjalan setengah jam dan aku belum menulis apa pun, aku sibuk menggigiti ujung pulpenku sambil terus melamun jauh. Aku tak tahu harus mulai menulis dari mana tentang hujan.

Hari ini hujan. Di warung bakso kegemaran ibuku, ketika kita sedang menunggu pesanan datang kamu sibuk mengelap wajahmu dengan tisu, mencoba sedikit mengeringkan, sementara aku sibuk memperhatikanmu. Radio tua pemilik warung memutar lagu campursari, kemudian kamu menatapku tersenyum, meliuk-liukkan kepalamu mengikuti alunan musik yang aku tahu kamu pasti tak menyukainya. Kamu tak suka musik dangdut, campur sari dan sejenisnya, terlalu banyak alasanmu dan aku tak mau mengingatnya. Dan kemudian kita tertawa, kamu menertawakan alunan musik itu dan aku menertawakan kelakuanmu.

Hari ini hujan. Masih pagi, pagi terakhir aku menemukan namamu dipesan handphoneku. Semoga kamu, dia, kalian selalu baik-baik saja. Itu pesan terakhirku untukmu, dan beberapa harapan lain yang tulus dari hatiku. Kemudian aku hanya terdiam, mengurung diriku hingga malam sementara hujan diluar tak juga reda sampai aku keluar menuju lantai tiga kamar kostku. Aku masih mengingatnya, dengan sangat baik.

Waktu tersisa setengah jam lagi. Aku belum menulis apa pun sementara teman-temanku sudah mulai meninggalkan kelas satu persatu. Aku menelungkupkan kepalaku ke meja, benar-benar tak tahu harus memulai dari mana menulis tentang hujan. Hingga tinggal lima belas menit lagi, aku harus menulis, tinggal lima orang tersisa di kelas.

HUJAN (tulisku memberi judul ditengah kertas folio).

Hujan adalah semangkuk bakso. Hujan adalah lollipop yang tertinggal dimeja kamar. Hujan adalah tawa, kemudian air mata. Hujan adalah kenangan. Dan kenangan, semanis atau sepahit apa pun itu tetap akan menyisakan kesedihan ketika dikenang. Karena kenangan hanya akan datang ketika waktu sudah sangat berubah dan semakin berubah. (aku berhenti menulis, tak tahu harus menulis apa lagi).

Aku benar-benar tak tahu harus menulis apa lagi, aku serahkan kertas folioku pada ketua kelas dan berjalan keluar kelas. Ah, hari ini masih hujan.

hujan

pernah kukatakan “hujan itu dimana-mana sama, perasaannya yang berbeda”

aku berharap saat hujan turun, saat air dari langit itu membasahi bumi kita, membasahi wajahmu, rambutmu, bajumu, aku berharap kamu mengingat kata-kata itu ,, aku tak berharap kamu mengingatku, itu terlalu tak mungkin .. aku suka jika kamu mengingat kata-kataku, karena hanya itu yang aku punya .. aku tak punya apapun untukmu kecuali kata yang selalu jujur dari hatiku …

dan hari ini hujan .. kan selalu sama dimana-mana ,, perasaannya yang sangat berbeda sekarang ..

dan hujankah ditempatmu sekarang? apakah disana hujan juga seperti disini ,, aku berharap sama ,, aku berharap disana juga hujan ,, dan aku berharap hujan itu membuatmu mngingat kata-kataku ..