MENANGISI

Menangisi. Dia sedang menangisi sesuatu. Dipojok ruangan dengan lampu neon berwarna kuning remang – remang ia terjongkok. Matanya merah, katung matanya terlihat mengerikan. Ia diam, tapi semua orang tau ia menangis. Sesekali ia terlihat berbicara sesuatu , tak jelas, seperti mengeluhkan sesuatu. Entah pada siapa ia mengeluh, ia seperti menatap tembok berjamur yang lembab tempat ia bersandar ketika tertidur karena ia tak pernah mau naik kekasur. Rambutnya panjang tak terawatt, mungkin sudah berbulan – bulan tak tersentuh air. Piring bekas nasi disebelahnya tergeletak sembarangan, nasi – nasi berserakan disekitarnya. Dia perempuan, kurus, dan menangis.

Suster  Ema berjalan mendekatiku, ia setengah baya dengan wajah keibuan yang tulus. Dengan ramah ia menjabat tanganku. ” Maaf agak lama, saya ada tugas diluar, sudah melihatnya?” sapa suster Ema ramah. Aku mengangguk pelan, suster Ema menyodorkan sebuah buku kuning. Buku yang kuterima setiap bulan mengenai perkembangan perempuan itu.

“ Dia semakin sering marah dan tak mau makan, bahkan dalam beberapa malam tangisnya makin menjadi sampai kami terpaksa memberikan suntikan penenang untuknya “, suster Ema menyentuh pundakku pelan. Aku menoleh menatap mata Suster Ema yang terlihat memancarkan sinar keprihatinan, aku tersenyum dan mengangguk pelan. Suster Ema meninggalkanku sendiri yang terduduk dibangku depan kamar pasien. Lama aku termenung, menatap buku kuning pemberian suster Ema. Disampul buku itu tertempel sebuah foto perempuan berukuran 3 X 4 hitam putih. Wajah perempuan dalam foto itu terlihat cantik, hidungnya mancung dengan mata yang bulat, rambutnya ikal terikat, usianya mungkin sekitar 35 tahunan.

Lamunanku melayang jauh, kesebuah rumah dengan halaman yang luas dan hijau. Rumah itu bercat putih, dengan jendela – jendela yang besar. Seorang anak berusai 12 tahun tengah menyirami bunga – bunga yang tertanam apik dan indah. Ayahnya terlihat tak jauh dari anak itu, tengah menyiangi rumput.

“ Yah, ibu kok belum pulang?” Tanyaku pada ayah.

“ Banyak kerjaan di butik mungkin Tih.” Jawab ayah pelan. Aku menoleh pada ayah, ia tersenyum. Sejak saat itu aku tak pernah bertanya lagi bila ibu pulang tak tepat waktu karena aku tahu ayah tak suka.

Aku keluar meninggalkan rumahsakit, waktu menunjukkan pukul dua siang. Seharusnya aku sudah sampai kampus pikirku. Sebuah taksi berhenti tepat didepanku sebelum sempat ku hentikan, aku langsung membukaa pintu. “Kemana mbak?” Tanya supir ramah, aku menunjukkan sebuah alamat dan sang supir langsung mengangguk.

Aku terbaring lemas dikamarku, kututup mataku , lagi, bayang – bayang masa lalu menari – nari di kepalaku.

“ Bu, kenapa baru pulang? Ratih badannya panas!” ayah langsung berkata begitu ketika ibu baru sampai rumah sekitar pukul sebelas malam, sementara aku terbaring tak berdaya. Badanku panas, usiaku 13 tahun saat itu. Ibuku hanya diam, ia meletakkan tas dan mandi. Ia diam, bahkan ia tak masuk kekamarku untuk sekedar melihat keadaanku. Aku menarik selimutku dan mulai menitikkan air mataku.

“ Bu, apa butik serepot itu sampai tiap hari kamu harus pulang larut?” disuatu malam lain, suara ayahku terdengar sedikit membentak, tak seperti biasanya batinku. Biasanya selarut apapun ibuku pulang, ayahku hanya diam. Aku berjalan menuju pintu kamarku, pintu sedikit kubuka, dari celah itu aku bisa melihat kedua orangtuaku. Ibu menatap ayah tajam, “ Apa kamu pikir gaji kamu jadi guru honorer itu cukup menyekolahkan Ratih?” ibu menghela nafas, aku jadi tak mengerti. “ Selama ini saya diam Pak, semua kebutuhan keluarga saya yang penuhi, gaji kamu itu cuma cukup beli beras sepuluh liter!” kini ibu semakin menjadi, ia berkata sambil menunjuk – nunjuk ayah. Ayah menunduk, aku terus melihat wajahnya, dari sudut matanya menetes setitik air. “ Saya tak pernah berkata saya tak mampu menghidupi kalian, kamu yang tak pernah memberi kesempatan ” kata ayahku pelan. “ Sudahlah Pak, saya capek,” ibuku berjalan menuju kamarnya. Aku terduduk dibelakang pintu kamarku, air mata deras mengalir, aku tak bisa melihat harga diri ayahku dihancurkan oleh ibuku sendiri, aku tak bisa.

Aku membuka mata pelan, kenangan – kenangan itu selalu menghantuiku. Usiaku 22 tahun kini, tapi semua itu terasa baru terjadi kemarin. Aku beranjak menuju kamar mandi, kubasuh mukaku. Aku tak pernah tahu, apakah ibuku menyayangiku atau tidak. Dalam semua kenanganku tak sedikitpun ibuku pernah bersikap manis padaku. Dulu, aku pernah menanyakan ini pada ayahku, ia waktu itu mengatakan bahwa setiap orang punya caranya sendiri – sendiri dalam menunjukkan rasa sayangnya. Entahlah, aku tak pernah tahu bagaimana perasaan ibuku padaku, begitu pula aku padanya.

“ Ratih, bangun sudah siang!” suara pakdhe Narto mengagetkanku, aku terlonjak dan membuka pintu. Pakdhe Narto tersenyum pelan, “ mandi sana, budhe sudah menunggu untuk sarapan” aku mengangguk. Sudah tujuh tahun aku tinggal bersama pakdhe dan budhe Narto, mereka tak mempunyai seorang anakpun, mungkin itu yang membuat mereka menganggapku sebagai anak mereka sendiri. Dari pakdhe Narto pun aku tahu kalau ternyata aku adalah anak diluar nikah ayah ibuku, mereka masih kuliah kata pakdhe dan terpaksa menikah untuk mentupi aib. Aku mulai tahu kenapa sikap ayah dan ibuku tak seperti pasangan lain, dari pakdhe narto pun aku tahu kalau orangtua ibuku tak pernah menyutujui pernikahan mereka.

Aku kembali melihat perempuan itu, ia masih seperti seminggu yang lalu, masih menangisi sesuatu. Seorang perawat membukakan pintu kamarnya untukku, pelan aku melangkah masuk. Ia tak menoleh, entah ia merasakan kedatanganku atau tidak, aku duduk diatas kasurnya yang tak terpakai kecuali setelah ia mendapat suntikan penenang. Wajahnya sangat kusut, aku sedikit bergidik, sebuah ingatan kembali melintas dikepalaku.

“ Pak, apa si yang bisa kamu kerjakan? Saya heran masak cuma disuruh pesan catering saja salah, saya malu sama teman – teman saya!” waktu itu ibu tengah mengadakan syukuran pembukaan butik baru, ayah lupa tak memesan es krim, aku tak mengerti kenapa ibu sampai semarah itu. “ Masuk kamar sana Tih, kerjakan peermu.”  Kata ayahku, mungkin Ia tak ingin aku melihat pertengkaran mereka. ” iya yah” jawabku pelan dan masuk kekamarku. “ Saya tu heran sama kamu pak, apa kamu sengaja mempermalukan saya? Kamu tidak suka saya membuka butik baru bersama pak Hendro? Kamu keberatan ?” kemarahan ibu semakin menjadi, aku berusaha mentup telingaku tapi suaranya tetap terdengar keras.

“ Saya tidak sengaja bu, lagipula cuma eskrim, saya pikir tamu – tamu juga tak apa – apa “ ayahku mencoba menenangkan. “ Kamu ini tidak pernah kepesta – pesta si pak, teman kamu mana ada yang pesta dengan es krim! Jangan samakan teman – teman saya dengan teman – teman kamu itu!” aku semakin tak mengerti arah pikiran ibuku. Aku tak mendengar suara ayahku menjawab, hanya suara langkah kakinya yang terdengar pelan.

Sejak pertengkaran mereka malam itu aku tak pernah lagi melihat ayahku duduk sampai larut menunggu kepulangan ibuku atau menelponnya tiap jam makan. Ayahku semakin murung, ia juga jarang menanyakan sekolahku, aku tak pernah berani bertanya kenapa, karena aku mengerti hatinya terluka. Mungkin ia lelah, ia lelah menghadapi sikap ibuku yang tak pernah berubah, ia lelah bersabar. Sementara ibuku justru makin menjadi, ia pulang makin larut, beberapa kali aku melihat ia diantar teman lelakinya, aku tak pernah ingin tahu ia siapa atau ada hubungan apa dengan ibuku. Hingga suatu hari ibuku pergi keluar kota dengan lelaki yang ternyata bernama pak Hendro itu, urusan bisnis pamitnya. Tiga hari ia belum pulang, aku dan ayahku pun tak pernah membicarakan kepulangannya, walau aku tahu ayahku memikirkanya. Hari itu, hari keempat kepergian ibuku keluar kota, sekitar pukul dua siang aku pulang sekolah. Rumah sangat sepi, tak ada suara ayahku padahal seharusnya ia sudah ada dirumah, aku juga tak menemukan bi iyem, tetangga yang biasanya membereskan rumah kalau siang. Dari belakang rumah terdengar suara jeritan, suara bi iyem pikirku mungkin ia melihat ular, aku segera berlari melihatnya. Langkahku terhenti, nafasku tercekat, mataku terbelalak, aku tak percaya pada apa yang ku lihat. Ayahku tergantung dengan seutas tali pada pohon mangga kesayangan kami. Matanya melotot, busa putih keluar dari sudut mulutnya, wajahnya pucat, sementara bi iyem terjonggkok dibawahnya. Aku ingin menjerit keras, tapi entah kenapa aku tak bisa melakukannya, suaraku tak mau keluar dari mulutku, hanya air mata yang keluar tak terhenti. Esok harinya dipemakaman, ibuku datang, aku melihat ia berlari terseok – seok sambil menangis keras.

“ Pak apa yang terjadi padamu?” katanya sambil memeluk kubur baru ayahku. Aku sangat marah padanya, ini semua karenanya pikirku, saat itu juga aku memukulinya, aku ingin memakinya tapi suaraku tak mau keluar, yang keluar dari mulutku hanya erangan yang tak jelas.     Aku makin menjadi, sampai para pelayat harus memegangiku dan membawaku pulang. Sejak saat itu ibu jadi sering melamun, terkadang tersenyum sendiri tapi lebih sering menangis meraung – raung sementara aku telah benar – benar kehilangan suaraku, aku lupa bagaimana cara berbicara. Sampai suatu hari ibuku mengamuk tanpa sebab, keluarga sepakat membawanya kerumahsakit jiwa, sementara aku diasuh pakdhe Narto, kakak ibuku.  Usiaku 14 tahun ssaat itu. Dan sampai saat ini aku benar – benar tak ingat cara mengeluarkan suara dari mulutku.

Air mataku mengalir mengingat itu semua, aku mendekati perempuan itu dan duduk disebelahnya. Baru kali ini kami menangis bersama, mungkin juga kami menangisi hal yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s