Tirani, Babi, Pagi dan Malam

Tirani masih menggendong Babi menyusuri malam yang sangat asing, Babi hanya diam ia sangat lelah dan ia juga memahami kelelahan Tirani. Mereka tersesat dalam malam, hanya sesekali cahaya kunang – kunang menyinari mereka. Semua terasa gelap, Tirani masih saja melangkah meski terseok. Tirani mulai resah karena pagi tak jua kunjung datang, ia mulai berfikir pagi mengkhianatinya, ia mulai ingin marah. Sementara Babi masih diam, ia tak ingin menambah kelelahan Tirani.

Tirani membenci malam, sudah sejak lama, sejak ia merasa malam mengkhianatinya. Baginya malam hanya milik mimpi, baginya malam sama sekali tak memiliki waktu untuk mendengarkan Tirani lagi. Padahal dulu, Tirani sering juga bercerita pada malam dan ia merasa malam memahaminya. Yang terjadi sebenarnya adalah malam memang tak pernah mendengarkan Tirani, ia bukan mengkhianatinya tapi ia memang tak pernah memiliki Tirani, ia hanya milik mimpi dan keheningan. Tirani belum memahami itu, ia masih saja merasa terkhianati, entah sampai kapan, tapi kebenciannya pada malam membuat babi bosan.

Tirani terjatuh, ia tersungkur, kemudian menangis menyalahkan malam. Sementara Babi yang juga ikut jatuh mulai merasa ingin marah juga.

“ Malam, kenapa kamu begitu padaku, aku sudah lama tersesat didalammu kenapa tak juga kamu antarkan aku kepada pagi. Aku inginkan pagi, kepadanya aku ingin berbagi karena kamu mengkhianatiku malam. Bahkan kini kamu membiarkanku tersesat didalammu tanpa kamu beri aku arah dan cahaya.” Tirani mengeluh sambil mencoba untuk duduk.

“ Malam tidak mengkhianatimu Tirani, aku sudah bosan kamu merasa malam mengkhianatimu. Yang sebenarnya memang kamu dan malam tidak pernah saling memiliki. Buka matamu Tirani, bagaimana malam mampu memberimu cahaya karena malam hanya memiliki kesunyian. Bagaimana malam mampu mendengarkanmu karena malam telah memiliki mimpi. Mencintai malam tak harus ia selalu yang memberi padamu Tirani, kenapa kamu menjadi seperti ini, menuntut yang bukan milikmu.” Babi mulai ingin menyadarkan Tirani.

Tirani mulai menangis, ia tahu apa yang dikatakan Babi benar. Ia pernah merasa memiliki malam, padahal itu tak pernah terjadi, mereka bahkan tak saling mengenal. Tirani mulai tak bisa membendung perasaannya, ia menangis sesedu-nya, dalam tangisnya ia mengharap tak lagi membenci malam. Dan ia sama sekali tak mengharap mengenal malam, memang malam sangat asing baginya, ia kembali mengharap pagi yang sangat ia cintai.

“ Pagi,  aku tersesat dalam malam, tapi aku sudah berhenti membenci malam. Apa kamu mengenal malam? Tentu tidak karena kamu bilang kamu tak memili banyak teman. Aku juga tak mengenal malam pagi, aku tak berharap mengenalnya karena malam juga tak berharap mengenalku. Pagi, datang kepadaku seperti biasanya, aku merindukan sejuk embunmu yang katamu itu air matamu. Pagi, apa kamu tahu aku mencintaimu, karena kamu tak hanya selalu mendengarkanmu, tapi karena kamu membuatku menjadi diriku sendiri.”

“ Tirani apa aku juga boleh bercerita pada pagi? “ kata Babi pelan. Tirani mengangguk dan membenarkan letak duduk Babi.

“ Pagi, sudah sejak lama aku bersahabat dengan Tirani. Aku juga mencoba menjadi sepertimu, selalu mendengar dan mengikuti langkahnya. Pagi, apa kamu juga merasa sepertiku? Mencintai Tirani dan menginginkan yang terbaik untuknya? Pagi, Tirani sangat mencintaimu apa kamu juga? Ah tentu iya. Tirani memang sangat sulit dimengerti pagi, ia selalu larut dalam pikirannya sendiri. Aku terkadang lelah mengikuti jalan pikirannya tapi aku sama sekali tak pernah lelah mengikuti hidupnya. Pagi, semoga kamu mendengarku seperti kamu mendengar Tirani. Tetaplah menjadi seperti ini pagi, mendengarkan setiap keluh kesahnya, mendengar tiap isak tangisnya, mendengar tiap tawa bahagianya. …. “.

Tirani memeluk erat Babi, ia menangis lagi. Ia berjanji akan menjadi lebih baik, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk babi dan pagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s