Pada Pagi

Pada pagi

            Tirani membuka matanya pagi ini, masih seperti biasanya, matanya sayu dan badannya semakin mengurus saja. “selamat pagi” ucapnya lirih untuk dirinya sendiri. Tirani menatap kesekeliling, ia masih bangun ditempat yang sama tak pernah berubah seingatnya, dikamar dengan jendela dari besi tanpa lemari dan meja. Hanya sebuah boneka babi yang menjadi sahabatnya sejak dulu, sebenarnya Tirani sudah mulai bosan dengan si Babi, ia sangat cerewet dan sering cemburu pada pagi. Iya, Tirani sangat mencintai pagi, padanya ia bercerita tentang hati dan harinya.

Tirani lupa sejak kapan ia mencintai pagi, tapi baginya hanya pada pagi ia bisa menjadi dirinya sendiri. Karena ketika siang , senja dan malam datang ia berubah menjadi seperti manusia lain berusaha menjadi yang terbaik dan munafik. Hanya pada pagi, menurut Tirani, ia menyadari betapa nikmatnya menjadi diri sendiri. Sudah sejak lama Tirani hanya berteman dengan pagi dan Babi. Dulu sekali, Babi tak mau bicara seperti sekarang, tapi sepertinya Babi kasihan melihat Tirani yang tak berteman lagi dan mulai menemaninya berbicara.

Pernah suatu hari Babi dan Tirani berdebat tentang pagi, Babi selalu beranggapan bahwa malam selalu lebih setia dari pada pagi, bahwa malam selalu lebih mendengarkan dari pada pagi, bahwa malam dengan mimpinya mampu membuat kita menjadi lebih baik dari kenyataan yang seringkali pahit. Sedangkan Tirani membenci malam, ia membenci bermimpi, karena mimpi selalu menipunya, karena mimpi tak pernah jujur pada dirinya. Ia mencintai pagi yang membangunkannya dari mimpi dan kembali pada kenyataan, ia berterimakasih pada pagi yang senantiasa menyadarkannya pada yang nyata dan tidak. Dan perdebatan itu selalu tak pernah berujung.

Atau pernah Babi marah pada Tirani, ia menanyakan kenapa ia dibuat berbentuk babi. Kenapa dulu ia tak dibuat seperti malaikat atau peri. Tirani  mencoba  menjelaskan bahwa manusia tidak pernah benar – benar mengerti bentuk malaikat atau peri. Babi masih saja ngotot, ia mengutuk siapapun yang telah membuatnya dan Tirani akan mulai tertawa terbahak menertawakan kebodohan Babi.

Pagi ini, Tirani mulai bercerita pada pagi tentang perasaan – perasaannya, tentang betapa sakit hati pernah melukainya, tentang betapa ia pernah berbahagia, tentang kerinduan – kerinduannya. Disampingnya, Babi hanya mendengarkan, ia ingin protes tapi wajah Tirani sedikit sendu pagi ini. Tirani mulai menangis, hal yang sudah lama tak dilihat Babi, ini membuat Babi bingung, bukankah Tirani sudah sangat terbiasa menghadapi kepahitan, mengapa ia menangis pagi ini.

“ Pagi, tau kah kamu, pagi ini aku merasa lelah sekali, lelah terbangun dan menyadari aku akan sangat tersiksa menjalani hari ini. Pagi, apa kamu ingat tentang kisah – kisahku yang lalu ? Ah iya, tentu kamu ingat karena aku selalu mengulanginya setiap hari. Benar pagi, aku sedih hari ini karena aku teringat bahwa sudah sejak lama aku terkurung dan tak bisa lari dari sini. Tidak, bukan aku bosan padamu pagi, aku masih seperti biasanya, mencintaimu dan bercerita padamu. Aku hanya merasa sudah saatnya aku membawa Babi keluar dari sini dan menemukan keindahan pagi – pagi yang lain. Aku ingin mengajarinya mencintaimu, seperti aku kepadamu pagi. Sudah kok pagi, aku sudah melupakan kepahitan – kepahitan yang sering menghantuiku. Aku harus pergi dari sini pagi, biar aku belajar menciptakan senyum – senyum baru yang seperti kamu tawarkan, bukankah katamu diluar sana sangat banyak tawa yang bisa kudapat? Aku ingin kesana pagi dan menemukan semua hal yang kamu ceritakan “.

Babi hanya menatap sendu pada Tirani, akhirnya ia mulai menyadari kenapa Tirani mencintai pagi. Dan sejak saat itu Babi berjanji akan bersama Tirani mencintai pagi, mereka akan pergi, mencari pagi – pagi yang indah diluar sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s