selamat malam

malam ..

masih seperti malam2 lalu .. tak bisa kupejamkan mata..

aku membenci malam yang seperti ini .. yang sepi yang membuatku menyadari aku tak memiliki siapapun …

tapi kepada malam akhirnya aku berbagi kesepian .. akhirnya aku mengerti kenapa malam tak mau mendengar kisahku .. karena malam juga hanya memiliki keheningan untuk ia berikan ..

pada malam dimana sepi ini masih menghantui ..

ajari aku bagaimana kamu berteman dengan sepi, ajari aku bagaimana kamu terbiasa bermimpi …

pada malam dimana keheningan itu indah .

ajari aku bagaimana menikmati sepii.. ajari aku bersahabat dengan harapan ..

malam .. ajari aku melewatkanmu ..

malam, kamu lebih suka kulewatkan dengan air mata atau tawa??

harus bagaimana aku bersahabat denganmu ..

malam, apa makna tangis untukmu?? pernahkah kamu menangis?? pernahkah kamu merasa sakit?? pernahkah kamu ingin berbagi denganku malam????

malam,, walau kamu enggan mendengarku tapi aku ingin bercerita padamu .. tolong dengar .. sekali saja malam …

ini tentang makna tangis, menurutku, menangis itu artinya melepas  .. melepas kesedihan. melepas kebahagiaan ..

menangis itu juga menahan .. ketika kita harus menahan perasaan, air mata yang mengalir kan??

malam, yang ku lihat kamu begitu tegar.. kamu begitu melarutkan ..

pernahkah kamu mersa rapuuh seperti juga aku??

jika tidak, ajari aku menjadi seperti itu …

kepada malam dimana aku belajar bersabarr..

malam, kamu mengajariku bersabar menunggu pagi .. terimakasih karenamu seringkali pagiku menjadi begitu indah ..

malam,, tau kah artinya mengikhlaskan???

AJARI AKU DAN KATAKAN PADAKU AKU BISA .. katakan padaku ..

ajari aku menjadi setegar kamu .. melewati keheningan dan kesepian ..

aku ingin menjadi sepertimu dan berhenti berpura- pura menjadi orang lain .. aku ingin sejujur dirimu ..

 

malam, aku tak menyukai mimpimu .. tapi aku berharap aku mulai menikmati melewatimu dengan menjadi diriku ..

Tirani, Babi, Pagi dan Malam

Tirani masih menggendong Babi menyusuri malam yang sangat asing, Babi hanya diam ia sangat lelah dan ia juga memahami kelelahan Tirani. Mereka tersesat dalam malam, hanya sesekali cahaya kunang – kunang menyinari mereka. Semua terasa gelap, Tirani masih saja melangkah meski terseok. Tirani mulai resah karena pagi tak jua kunjung datang, ia mulai berfikir pagi mengkhianatinya, ia mulai ingin marah. Sementara Babi masih diam, ia tak ingin menambah kelelahan Tirani.

Tirani membenci malam, sudah sejak lama, sejak ia merasa malam mengkhianatinya. Baginya malam hanya milik mimpi, baginya malam sama sekali tak memiliki waktu untuk mendengarkan Tirani lagi. Padahal dulu, Tirani sering juga bercerita pada malam dan ia merasa malam memahaminya. Yang terjadi sebenarnya adalah malam memang tak pernah mendengarkan Tirani, ia bukan mengkhianatinya tapi ia memang tak pernah memiliki Tirani, ia hanya milik mimpi dan keheningan. Tirani belum memahami itu, ia masih saja merasa terkhianati, entah sampai kapan, tapi kebenciannya pada malam membuat babi bosan.

Tirani terjatuh, ia tersungkur, kemudian menangis menyalahkan malam. Sementara Babi yang juga ikut jatuh mulai merasa ingin marah juga.

“ Malam, kenapa kamu begitu padaku, aku sudah lama tersesat didalammu kenapa tak juga kamu antarkan aku kepada pagi. Aku inginkan pagi, kepadanya aku ingin berbagi karena kamu mengkhianatiku malam. Bahkan kini kamu membiarkanku tersesat didalammu tanpa kamu beri aku arah dan cahaya.” Tirani mengeluh sambil mencoba untuk duduk.

“ Malam tidak mengkhianatimu Tirani, aku sudah bosan kamu merasa malam mengkhianatimu. Yang sebenarnya memang kamu dan malam tidak pernah saling memiliki. Buka matamu Tirani, bagaimana malam mampu memberimu cahaya karena malam hanya memiliki kesunyian. Bagaimana malam mampu mendengarkanmu karena malam telah memiliki mimpi. Mencintai malam tak harus ia selalu yang memberi padamu Tirani, kenapa kamu menjadi seperti ini, menuntut yang bukan milikmu.” Babi mulai ingin menyadarkan Tirani.

Tirani mulai menangis, ia tahu apa yang dikatakan Babi benar. Ia pernah merasa memiliki malam, padahal itu tak pernah terjadi, mereka bahkan tak saling mengenal. Tirani mulai tak bisa membendung perasaannya, ia menangis sesedu-nya, dalam tangisnya ia mengharap tak lagi membenci malam. Dan ia sama sekali tak mengharap mengenal malam, memang malam sangat asing baginya, ia kembali mengharap pagi yang sangat ia cintai.

“ Pagi,  aku tersesat dalam malam, tapi aku sudah berhenti membenci malam. Apa kamu mengenal malam? Tentu tidak karena kamu bilang kamu tak memili banyak teman. Aku juga tak mengenal malam pagi, aku tak berharap mengenalnya karena malam juga tak berharap mengenalku. Pagi, datang kepadaku seperti biasanya, aku merindukan sejuk embunmu yang katamu itu air matamu. Pagi, apa kamu tahu aku mencintaimu, karena kamu tak hanya selalu mendengarkanmu, tapi karena kamu membuatku menjadi diriku sendiri.”

“ Tirani apa aku juga boleh bercerita pada pagi? “ kata Babi pelan. Tirani mengangguk dan membenarkan letak duduk Babi.

“ Pagi, sudah sejak lama aku bersahabat dengan Tirani. Aku juga mencoba menjadi sepertimu, selalu mendengar dan mengikuti langkahnya. Pagi, apa kamu juga merasa sepertiku? Mencintai Tirani dan menginginkan yang terbaik untuknya? Pagi, Tirani sangat mencintaimu apa kamu juga? Ah tentu iya. Tirani memang sangat sulit dimengerti pagi, ia selalu larut dalam pikirannya sendiri. Aku terkadang lelah mengikuti jalan pikirannya tapi aku sama sekali tak pernah lelah mengikuti hidupnya. Pagi, semoga kamu mendengarku seperti kamu mendengar Tirani. Tetaplah menjadi seperti ini pagi, mendengarkan setiap keluh kesahnya, mendengar tiap isak tangisnya, mendengar tiap tawa bahagianya. …. “.

Tirani memeluk erat Babi, ia menangis lagi. Ia berjanji akan menjadi lebih baik, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk babi dan pagi.

Pada Pagi

Pada pagi

            Tirani membuka matanya pagi ini, masih seperti biasanya, matanya sayu dan badannya semakin mengurus saja. “selamat pagi” ucapnya lirih untuk dirinya sendiri. Tirani menatap kesekeliling, ia masih bangun ditempat yang sama tak pernah berubah seingatnya, dikamar dengan jendela dari besi tanpa lemari dan meja. Hanya sebuah boneka babi yang menjadi sahabatnya sejak dulu, sebenarnya Tirani sudah mulai bosan dengan si Babi, ia sangat cerewet dan sering cemburu pada pagi. Iya, Tirani sangat mencintai pagi, padanya ia bercerita tentang hati dan harinya.

Tirani lupa sejak kapan ia mencintai pagi, tapi baginya hanya pada pagi ia bisa menjadi dirinya sendiri. Karena ketika siang , senja dan malam datang ia berubah menjadi seperti manusia lain berusaha menjadi yang terbaik dan munafik. Hanya pada pagi, menurut Tirani, ia menyadari betapa nikmatnya menjadi diri sendiri. Sudah sejak lama Tirani hanya berteman dengan pagi dan Babi. Dulu sekali, Babi tak mau bicara seperti sekarang, tapi sepertinya Babi kasihan melihat Tirani yang tak berteman lagi dan mulai menemaninya berbicara.

Pernah suatu hari Babi dan Tirani berdebat tentang pagi, Babi selalu beranggapan bahwa malam selalu lebih setia dari pada pagi, bahwa malam selalu lebih mendengarkan dari pada pagi, bahwa malam dengan mimpinya mampu membuat kita menjadi lebih baik dari kenyataan yang seringkali pahit. Sedangkan Tirani membenci malam, ia membenci bermimpi, karena mimpi selalu menipunya, karena mimpi tak pernah jujur pada dirinya. Ia mencintai pagi yang membangunkannya dari mimpi dan kembali pada kenyataan, ia berterimakasih pada pagi yang senantiasa menyadarkannya pada yang nyata dan tidak. Dan perdebatan itu selalu tak pernah berujung.

Atau pernah Babi marah pada Tirani, ia menanyakan kenapa ia dibuat berbentuk babi. Kenapa dulu ia tak dibuat seperti malaikat atau peri. Tirani  mencoba  menjelaskan bahwa manusia tidak pernah benar – benar mengerti bentuk malaikat atau peri. Babi masih saja ngotot, ia mengutuk siapapun yang telah membuatnya dan Tirani akan mulai tertawa terbahak menertawakan kebodohan Babi.

Pagi ini, Tirani mulai bercerita pada pagi tentang perasaan – perasaannya, tentang betapa sakit hati pernah melukainya, tentang betapa ia pernah berbahagia, tentang kerinduan – kerinduannya. Disampingnya, Babi hanya mendengarkan, ia ingin protes tapi wajah Tirani sedikit sendu pagi ini. Tirani mulai menangis, hal yang sudah lama tak dilihat Babi, ini membuat Babi bingung, bukankah Tirani sudah sangat terbiasa menghadapi kepahitan, mengapa ia menangis pagi ini.

“ Pagi, tau kah kamu, pagi ini aku merasa lelah sekali, lelah terbangun dan menyadari aku akan sangat tersiksa menjalani hari ini. Pagi, apa kamu ingat tentang kisah – kisahku yang lalu ? Ah iya, tentu kamu ingat karena aku selalu mengulanginya setiap hari. Benar pagi, aku sedih hari ini karena aku teringat bahwa sudah sejak lama aku terkurung dan tak bisa lari dari sini. Tidak, bukan aku bosan padamu pagi, aku masih seperti biasanya, mencintaimu dan bercerita padamu. Aku hanya merasa sudah saatnya aku membawa Babi keluar dari sini dan menemukan keindahan pagi – pagi yang lain. Aku ingin mengajarinya mencintaimu, seperti aku kepadamu pagi. Sudah kok pagi, aku sudah melupakan kepahitan – kepahitan yang sering menghantuiku. Aku harus pergi dari sini pagi, biar aku belajar menciptakan senyum – senyum baru yang seperti kamu tawarkan, bukankah katamu diluar sana sangat banyak tawa yang bisa kudapat? Aku ingin kesana pagi dan menemukan semua hal yang kamu ceritakan “.

Babi hanya menatap sendu pada Tirani, akhirnya ia mulai menyadari kenapa Tirani mencintai pagi. Dan sejak saat itu Babi berjanji akan bersama Tirani mencintai pagi, mereka akan pergi, mencari pagi – pagi yang indah diluar sana.

perbedaan?? why not ?

aku masih heran sampai saat ini kenapa banyak orang yang gag bisa menghargai perbedaan .. oke .. mungkin kita gag bisa sepenuhnya nerima pendapat orang lain .. tapi bukan berarti kita berhak buat meremehkan mereka kan??
gini .. contohnya aja pas kangen band lagi terkenal2nya tuh ,, banyak banget musisi dari yang udah punya nama sampe mereka yang belum kehembus media juga berkoar ramai..

atau .. kekerasan yang akhir2 ini sering terjadi yang mengatasnamakan agama.. yang ngerusak tempat ibadah umat lain dengan mengatasnamakan kebenaran ..

atau .. beberapa orang yang mengaku pecinta sastra yang ngeremehin hasil karya orang lain .. yang mengannggap apa yang dikaryakan orang lain itu bukan sastra yang baik ,, apa definisinya?? kenapa bisa mengatakan seperti itu??

karena perbedaan adalah hal yang gag mungkin dihindari .. kenapa kita gag buka mata dan menerima bahwa setiap orang berhak berkarya apapun dan berhak berfikir apapun …

apa salah kangen band bermusik seperti itu?? kenapa dengan musiknya?? kenapa harus ditertawakan diremehkan?? justru mereka yang menertawakan itu mungkin hanya orang2 sirik yang gag bisa melakukan hal yang sama .. kenapa harus sibuk menertawakan mereka?? kalau kalian bisa buktikan karya kalian dan gebrak pangung musik Indonesia .. jangan hanya mencaci tapi tak bisa menunjukkan apa2 … begitu sikap pengecut ..
yang lebih memalukan lagi masalah kebebasan beragama.. kenapa si merasa paling benar dan menyalahkan orang lain?? yang benar itu yang dengan kekerasan seperti itu?? apa di agama kalian diajarkan membunuh mereka yang tidak sama dengan kita?? agama apa yang seperti itu ..

dan mereka yang meremehkan para penulis dengan karya2nya .. seperti apapun tulisan itu .. aku yakin setiap penulis selalu melakukan yang terbaikk.. sastra bukan satu ukuran satu orang atau sekelompok .. maknanya luas dan setiap orang gag berhak buat ngerasa yang paling bener ,, kalian berhak buat gag baca apa yang mereka tulis ,, tapi kalian gag berhak buat ngehina dan menertawakan .. itu bukan sikap seorang pecinta sastra … itu pecundang ..

bukan berarti mereka yang berbeda dengan kita itu salah .. bukan berarti mereka yang berbeda dari kita itu berhak ditertawakan ..

haragailah perbedaan .. lakukan apa yang kalian pilih dalam hidup ini dan biarkan orang lain dengan bebas memilih jga ..

hidup gag sesempit apa yang diotakmu sajaa… hidup tak cuma milik pendapatmu .. tapi juga pendapatku .. pendapat mereka .. pendapat kita semua ..

 

….. -____- …

senyum, tangis, tawa , pedih, sakit, luluh , cinta, patah hati …

betapa banyak yang harus kita lewati dihidup ini .. kita harus melewati setiap kisah dan melakukan yang terbaikk… dan ketika setiap kisah harus berganti dengan kisah lain .. seringkali kita ingin bertahan meski tak mungkin .. seringkali kita tak ingin beranjak namun harus .. seringkali terasa sakit dan kita merasakannya tanpa ingin mengobatinya ..

dan senyum .. bahagia .. tawa .. saat itu datang .. saat kita larut dalam kesempurnaan hidup .. seringkali melupakan yang harusnya kita ingat.. sering kali kita berbahagia diatas penderitaan orang lain .. seringkali harus melukai orang lain jugaa .. kenapa ?? kenapa kita bisa berbahagia saat kita melihat orang lain tersakiti …

hidup .. bukan kita harus sempurna dalam menjalaninya .. bukan kita harus selalu menjadi yang terbaik ..

karena setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri .. karena setiap orang berhak punya jalan hidup mereka sendiri ..

dan apa kita tidak sadar bahwa kita seringkali bertindak bak dewa .. mendosa-dosakan pilihan hidup orang lain .. menertawakan kehidupan orang lain .. setiap orang berhak melakukan kesalahan .. dan setiap orang berhak untuk memperbaikinya ..

hidup ku .. hidup mu .. hidup kita .. hidup kalian .. hidup mereka ..

semuanya punya jalan sendiri sendiri dan bebeda .. semua punya kisah sendiri sendiri dan perjuangan yang berbeda ..

berhentilah bersikap bak Tuhan yang menyalahkan jalan hidup orang lain .. berhentilah menyakiti orang lain dan tertawa atas penderitaannya ..

senja itu

senja itu ..

mengingatkanku pada mekar mawar yang tak mau berhenti berduri ..

ia terlihat seperti mentari pagi …

senja itu ..

dengan renungan doa doa peri kecil meniupkan nafas cinta yang lembut

secercah cahayanya yang pelan menelusup juga kedasar sanubari

pekat dan enggan terlupakan ..

senja itu

tawa dan tangis yang menyertainya ..

berbalut kepalsuan dan kecintaan yang semu juga padanya ..

senja itu ..

membawa hati yang kemudian tak tentu kemana ia pergii ….