Harga dan Penghargaan

Betapa tidak mudahnya dalam hidup ini menemukan orang yang menghargaimu seperti apa yang kau inginkan. Sepanjang perjalanan hidup, aku belajar bawa setiap penghargaan adalah proses yang tidak mudah. Atau kita mematok harga yang terlalu tinggi? Entahlah.

Kan, kita belajar dilukai sejak dulu. Sejak pertama-tama kenangan luka kita dapat. Tapi setiap kali luka baru lahir kenapa masih saja kaget? Seolah-olah itulah luka pertama kali yang kau dapat. Lalu kita lupa pada penghargaan kita pada diri kita sendiri. Membiarkan diri kita terluka berkali-kali, bahkan ribuan kali. Siapa yang menganggap harga penghargaan terhadap diri kita itu terlalu mahal? Adalah diri kita sendiri, sejak kita membiarkan luka yang sama mengoyak kita berkali-kali.

Jangan membicarakan lukamu, jika kamu tak putus sekolah, tak kelaparan atau tak harus menggendong anakmu di bawah hujan karena kau tak mampu membeli payung! Tak ada luka yang patut dikabarkan, kecuali kita paham berapa harga dan penghargaan kita terhadap diri kita sendiri. Sekian.

Gagap Aksara

Gadget? Siapa yang tak butuh di jaman serba modern seperti sekarang. Taruhlah persenan pada pendapat masyrakat banyak mana kukira lebih dari 50% akan membutuhkan gedget. Menarik memang, karena menurutku kebutuhan masyarakat akan gedget adalah kebutuhan latah. Karena semua teman ber-gedget maka aku harus atau karena semua orang bisa update ini itu secara cepat maka aku juga harus. Jangankan mereka yang dewasa, anak-anak TK kini juga banyak yang kemana-mana menenteng gedget.
Gagdet memang membuat. Saat aku berkumpul dengan teman-temanku misalnya banyak yang sibuk terus melihat layar berapa puluh inci itu. Sampai-sampai kadang kami asik ngobrol lewat gadget dan malas berkomunikasi secara langsung. Ah, betapa tak menyenangkannya. Budaya latah kurasa semakin menjangkiti kita, manusia Indonesia yang semakin kehilangan banyak kearifan lokal.
Kalau ibu-ibu di desaku sedang berkumpul mereka akan asik berbicara banyak hal. Mulai dari kenakalan anak mereka, suami mereka, atau banyak hal lain sehingga keakraban makin terjalin. Apa besok kalau aku dan teman-temanku berkumpul kami akan sibuk memajang foto anak kami yang nakal? Mengupdate kelakuan suami kami? Juga pamer masakan-masakan yang kami makan dengan lupa memastikan tetangga kami sudah makan atau belum. Sekian.

Jendela

Selamat malam jendela, tak kah kau mengantar suasana yang semakin keruh di luar? dan kesendirian yang semakin mengerikan di dalam. Masih bersama segelas keraguan yang tak juga tertenggak habis, senantiasa menunggu dan menggoda. Setaip belai angin adalah kemalasanmu mengantarkan kesejukan. Bersama ruang semua semakin mengikat kita dan dunia luar semakin penuh kebohongan.

Selamat malam jendela, tak kah tiraimu telah lama lupa tak ku tutup lagi. Segera setelah pertama kali aku membukanya aku langsung lupa, bahwa ia pun harus ditutup bersama semua suara kebisingan,

Di luar tangisan anak-anak putus sekolah semakin memanggil-manggil. Sementara tawa mereka yang serakah, seolah mengejek ketuaanmu. Lalu suara-suara lain, berteriak-teriak seolah-olah langit tak lagi bosan melihat tingkah meningkah mereka.

Tuhan, kami semakin suka berteriak.
Hujan turun, kami teriak
Panas datang, kami teriak
Senang, kami teriak
Sedih, kami teriak

Seperti kalau kami tak berteriak, pita suara kami akan segera putus
Seperti kalau kami tak berteriak, kami akan menjadi manusia terlupakan

Kami semakin kehilangan jeda, dimana waktu membiarkan suara kami mengendap dalam hati kami masing-masing
Kami semakin kehilangan dunia, dimana diam dan ramai adalah keseimbangan yang kami rindukan

Tuhan, kami semakin sangat suka berteriak, sungguh

Selamat malam jendela, malam lalu ketika kita tak berbincang kau sengaja mengantar banyak panas kesini. Terlalu panas, sampai rasanya aku lupa tentang kenangan dingin yang malam lalunya kau hantarkan. Aku semakin cepat lupa, semua segera berganti dan berganti lagi. Tak kah kita terlalu lelah untuk sekedar bercerita? Sementara suara di luar semakin keras dan mengerikan.

 

 

 

 

 

 

Catatan di Sini, English 19 Juni 2013

Hai,, aku menyapamu lagi dini hari ini. Dingin sekali rasanya..
Apa kabar English? hari ini kamu penuh dengan anak-anak berwajah baru bagiku. Mungkin kamu lebih mengenalnya. Memang, minum jeruk nipis di sini dan melihat wajah-wajah yang menyimpan banyak sekali rahasia selalu menarik untukku. Lagi pula, aku tidak mengantuk ..

Jangan bertanya tentang kabarku, karena kau akan memetik kegamangan.. Kau tentu tahu bagaimana aku melewati malam di sini selalu dengan resah entah yang akan berujung pada apa ..

Hari ini aku ingin bercerita padamu, kisah ini belum pernah kusampaikan pada siapapun ..

Ini tentang sebuah batu apung berwarna putih yang terdampar dibibir pantai. Batu itu sudah bermalam-malam diam, ia hanya bisa menunggu. Ia berharap ombak pantai menjemputnya pulang ke laut. Atau kemungkinan lain seseorang akan memungut dan membawanya. Ia berharap bisa kembali ke laut, ke sana .. ke luasnya biru bersama begitu banyak hal lainnya .. Tapi ombak pantai seolah tak mau menjemputnya, ombak tahu, batu apung itu tak mungkin berjalan sendiri ke pantai .. tapi ombak mendiamkannya ..
Tapi sekali lagi, ia terlalu lelah untuk memohon pada ombak. Bibirnya terlalu kelu untuk merayu, .
Ataupun jika ada yang memungutnya, ia hanya bisa diam ..

Hai dini hari yang entah bagaimana ini, sayang sekali Nafilah, kamu terlahir dengan terlalu suka menerka-nerka .. Sudah-sudahlah ..

Catatan di Sini, English 12 Juni 2013

Perempuan di seberang meja sana tengah merokok. Rambutnya panjang, bibirnya tipis dengan baju tanpa lengan. Dia cantik. Beberapa pria di sini, aku tahu, sesekali mencuri mata ke arahnya. Dia terlihat tidak peduli, entah karena apa. Aku mengamati kejadia di sini, ditempat ngopi ini dengan syahdu. Meski sesekali mataku jatuh ke matamu. Matamu, yang tak di sini.

Bukan, aku bukan hendak menulis cerpen ..

Tadi pagi ibuku menelpon, katanya “Kamu belum minta transfer? kamu baru bangun jam segini? Kamu tidak solat subuh? Kamu … ”
Lalu siangnya kakakku mengirim pesan, “Katanya mau pulang? Mas lagi punya duit nih.”

Bukan, aku bukan hendak menceritakan kerinduan keluargaku dan kerinduanku pada mereka.

Hari ini, sehabis maghrib aku bersepeda sendiri kesebuah toko buku. Baru setengah jam aku berputar-putar, melihat-lihat judul, dan sesekali membaca-baca aku sudah sangat lelah. Aku pulang, menikmati malam Jogja dengan sepeda pinjaman teman kosku.
Kemudian, aku ingin sekali makan. Iya, aku sampai lupa aku lapar. Hampir aku mengirim pesan kesebuah nomor ketika tiba-tiba sepeda yang kunaiki menabrak becak. Entah, Bapak becak itu tertawa. Bukan marah.

Bukan, aku bukan hendak mengisahkan persepedaanku hari ini.

Aku gagal makan, tidak jadi mengirim pesan, dan sampai di kos dengan begitu lesu. Mandi. Satu-satunya hal yang bisa aku kerjakan.
Tapi dingin menyergap kulitku. Gegas cepat aku menyalakan kompor dan memanaskan air. Aku tak mau kedinginan, untuk kesekian kalinya. Aku menolak, entah, hari ini.

Bukan, itu bukan yang ingin aku sampaikan padamu.

Seorang teman mengirim pesan dan mengatakan ia tengah di sini. Aku masih di kamar kos ketika kepalaku berpikir tentang beberapa kewajiban yang harus selesai esok hari. Aku boleh juga menyusul, menyelesaikan yang memang harus selesai.
Dan, tiba aku di sini. Bersama beberapa hal di tasku yang entah dengan bagaimana kurasa baumu masuk juga ke sana.

Ah, bukan pula tentang kekonyolan-kekonyolan seperti itu yang ingin kusampaikan ..

Kau tahu?
Aku ingin sekali bertanya.
Pernahkah? pernahkah kau menulis begitu banyak untukku? Pernahkah?

Atau, bisakah kamu sekarang berada di sini? Tanpa aku katakan kau harusnya di sini ..

Atau, pernahkah? Kamu berpikir ingin di sini karena kau tahu aku di sini?

Tidak, bukan pula pertanyaan itu.